JAKARTA, Holopis.com – Daging kerbau yang biasanya keras ternyata bisa jadi empuk cuma dalam 10 menit. Ahli IPB membagikan trik mudah sebelum daging dimasak.
Daging kerbau masih menjadi pilihan masyarakat untuk hewan kurban di sejumlah daerah saat Idul Adha.
Selain harganya relatif lebih terjangkau dibanding sapi, daging kerbau juga dikenal memiliki kandungan protein yang tinggi dan baik untuk tubuh.
Namun di balik keunggulannya, banyak masyarakat masih menganggap daging kerbau lebih keras dan sulit diolah.
Tekstur yang lebih padat dibanding daging sapi membuat sebagian orang ragu mengolahnya menjadi hidangan keluarga.
Guru Besar Fakultas Peternakan IPB University, Prof Irma Isnafia Arief mengatakan, daging kerbau sebenarnya bisa menjadi sajian empuk dan lezat jika diolah dengan teknik yang tepat.
Menurutnya, kesalahan paling umum yang sering dilakukan masyarakat adalah memasak daging menggunakan api besar dalam waktu singkat.
Cara tersebut justru membuat tekstur daging semakin keras dan cepat kering.
“Daging kerbau memiliki tekstur lebih keras dibandingkan daging sapi, sehingga memerlukan perlakuan khusus agar hasilnya empuk dan enak disantap,” ujar Prof Irma seperti dikutip dari laman IPB University, Rabu (27/5/2026).
Salah satu rahasia utama agar daging kerbau cepat empuk ternyata cukup sederhana, yakni memanfaatkan bahan alami sebelum proses memasak.
Prof Irma menyarankan penggunaan daun pepaya atau nanas sebagai pengempuk alami.
Daun pepaya diketahui mengandung enzim papain yang mampu membantu memecah serat protein pada daging.
Sementara nanas mengandung enzim bromelin yang memiliki fungsi serupa untuk melunakkan tekstur daging.
Menurut Prof Irma, cara penggunaannya pun tidak rumit.
Daging cukup dibungkus menggunakan daun pepaya selama sekitar 10 menit sebelum dimasak.
Alternatif lainnya, daging bisa dicampur dengan irisan nanas selama lima hingga 10 menit.
“Cukup bungkus daging dalam daun pepaya selama 10 menit atau aduk dengan irisan nanas selama 5–10 menit. Tapi jangan terlalu lama agar daging tidak hancur,” jelasnya.
Selain membantu membuat tekstur lebih lembut, penggunaan bahan alami tersebut juga dinilai lebih aman dan praktis diterapkan di rumah dibanding bahan pengempuk kimia.
Tak hanya itu, teknik memotong daging juga disebut sangat menentukan hasil akhir masakan.
Prof Irma menyarankan agar daging dipotong melintang serat supaya teksturnya lebih mudah empuk saat dimasak maupun dikonsumsi.
Cara sederhana tersebut dinilai efektif mempercepat proses pelunakan daging, terutama untuk bagian yang memiliki serat kasar.
Untuk mengurangi aroma khas daging kerbau yang cukup kuat, masyarakat juga dianjurkan melakukan perendaman menggunakan bumbu alami.
Beberapa bahan yang direkomendasikan antara lain jahe, serai, daun jeruk, hingga air jeruk nipis.
Bumbu-bumbu tersebut tidak hanya membantu menyamarkan aroma prengus, tetapi juga membuat cita rasa masakan menjadi lebih segar dan kaya rempah.
Dalam proses memasak, metode slow cooking atau memasak perlahan menggunakan api kecil menjadi teknik yang paling dianjurkan.
Teknik ini membuat jaringan serat pada daging perlahan melunak tanpa kehilangan terlalu banyak cairan alami.
Selain direbus perlahan, penggunaan panci presto juga dapat menjadi pilihan praktis untuk mempercepat proses memasak tanpa membuat tekstur daging menjadi alot.
“Metode memasak perlahan menggunakan api kecil atau panci presto sangat membantu menghasilkan tekstur daging yang lebih empuk,” katanya.
Prof Irma juga menyebut teknik memukul daging sebelum dimasak dapat membantu memperbaiki tekstur.
Cara ini dilakukan untuk membantu memecah serat-serat keras pada daging sehingga lebih mudah lunak saat dimasak.
Sementara itu, dosen Departemen Gizi Masyarakat IPB University, Reisi Nurdiani, MSi menjelaskan bahwa proses pengolahan daging turut memengaruhi kandungan gizinya, terutama protein.
Menurut Reisi, memasak memang dapat mengurangi sebagian kandungan protein akibat suhu tinggi.
Namun proses tersebut justru membuat protein lebih mudah dicerna dan diserap tubuh.
“Protein pada daging matang memang berkurang, tetapi menjadi lebih bermanfaat karena telah mengalami denaturasi sehingga lebih mudah diserap tubuh dibandingkan protein pada daging mentah,” ujarnya.
Ia menambahkan, kandungan zat besi pada daging relatif stabil meskipun terkena panas saat proses memasak.
Karena itu, daging kerbau tetap bisa menjadi sumber protein hewani dan zat besi yang baik bagi tubuh.
Reisi juga mengingatkan agar masyarakat menyesuaikan teknik memasak dengan jenis potongan daging.
Bagian yang lebih keras sebaiknya dimasak lebih lama menggunakan suhu sedang agar hasilnya optimal.
Dengan teknik pengolahan yang tepat, daging kerbau dinilai bisa menjadi alternatif sumber protein hewani yang lezat, sehat, sekaligus ekonomis untuk masyarakat saat Idul Adha.
“Jika tahu cara mengolahnya, daging kerbau bisa jadi alternatif sumber protein hewani yang lezat, sehat, dan ekonomis,” tutur Prof Irma.



