HOLOPIS.COM, JAKARTA – Pemuda Mahasiswa Indonesia Raya (Pemira) berencana menggelar konsolidasi nasional lintas elemen pemuda pada Kamis, 8 Oktober 2026, di Gedung Sumpah Pemuda, Jakarta Pusat.
Agenda ini menjadi langkah awal untuk menyatukan berbagai kalangan dalam merumuskan arah perjuangan generasi muda menuju Indonesia Emas 2045.
Koordinator Pemira, Bintang Wahyu Saputra, mengatakan konsolidasi tersebut akan melibatkan berbagai unsur, mulai dari organisasi kepemudaan, mahasiswa, Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM), santri, pegiat lingkungan, atlet, komunitas gim, pekerja kreatif, seniman, hingga perwakilan organisasi daerah dari berbagai wilayah Indonesia.
“Pertemuan inklusif ini memproyeksikan perjumpaan akbar lintas elemen mulai dari pemuda, mahasiswa, BEM, santri, pegiat lingkungan, atlet, gamers, pekerja kreatif, seniman, hingga perwakilan organisasi daerah dari seluruh penjuru tanah air yang menegaskan kesiapan mereka mengambil alih estafet kepemimpinan nasional,” kata Bintang di Jakarta, Kamis (1/10/2026).
Menurut Bintang, pertemuan tersebut merupakan tahap awal menuju agenda puncak bertajuk Konsolidasi Kekuatan Aktivis, Pemuda, Mahasiswa, Lintas Profesi, Agama, dan Golongan Menuju Indonesia Emas 2045.
Ia menjelaskan, Pemira memandang peristiwa Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928 sebagai tonggak penting persatuan nasional. Kala itu, generasi muda mampu melampaui perbedaan identitas untuk membangun kesadaran sebagai satu bangsa.
Memasuki perjalanan menuju satu abad Sumpah Pemuda, Bintang menilai tantangan generasi muda kini telah bergeser. Jika dahulu perjuangan berfokus pada merebut kemerdekaan, saat ini generasi muda dihadapkan pada tanggung jawab memperkuat kedaulatan pangan, energi, teknologi, industri, dan data, sekaligus mewujudkan keadilan sosial.
Ia menegaskan konsolidasi yang digagas Pemira tidak dimaksudkan untuk menyamakan seluruh pandangan maupun melebur organisasi yang memiliki latar belakang berbeda. Sebaliknya, forum tersebut diharapkan menjadi ruang untuk menemukan kesamaan agenda perjuangan demi kepentingan bangsa.
“Jika Sumpah Pemuda 1928 menyatukan kesadaran kita sebagai satu bangsa, maka konsolidasi menuju satu abad Sumpah Pemuda harus menyatukan cita-cita kita tentang Indonesia yang hendak dibangun,” ujarnya.
Bintang juga menyoroti sejumlah persoalan yang dinilai perlu menjadi perhatian generasi muda, di antaranya polarisasi sosial akibat politik identitas, kesenjangan ekonomi, serta penyebaran disinformasi di ruang digital.
Selain itu, ketergantungan terhadap teknologi asing dan ancaman krisis lingkungan disebut menjadi tantangan yang membutuhkan keterlibatan aktif generasi muda.
Menurut dia, pemuda perlu mengambil peran strategis sebagai bagian dari solusi melalui penguatan literasi dan kolaborasi lintas sektor.
“Serta membangun kolaborasi nyata untuk memastikan fondasi kebangsaan tetap kokoh di tengah dinamika global yang kompetitif,” kata Bintang.



