“Itulah makna polisi bersama masyarakat, hadir untuk melindungi, dekat untuk mengayomi, cepat untuk melayani, adil dan menegakkan hukum, terbuka untuk diawasi, dan adaptif menghadapi perubahan,” tutur Suyudi.
Menurut Suyudi, kekuatan Polri tidak semestinya dibangun melalui rasa takut masyarakat. Sebaliknya, kepercayaan publik menjadi bagian penting dari kewibawaan institusi kepolisian.
“Polri yang kuat bukan karena ditakuti melainkan karena dipercaya. Polri yang berwibawa bukan karena menjaga jarak melainkan karena hadir bersama rakyat ketika negara dibutuhkan,” tegasnya.
Menutup penyampaiannya, Suyudi mengatakan jabatan di kepolisian harus dipandang sebagai amanah dan bentuk pengabdian kepada masyarakat, bangsa, dan negara.
“Karena bagi saya, menjadi polisi adalah kehormatan, memimpin Polri adalah amanah, dan mengabdi bersama masyarakat agar tujuan,” ucap Suyudi.
Ia kemudian menyampaikan doa agar seluruh pihak diberikan petunjuk dan kekuatan dalam menjalankan tugas menjaga bangsa dan menegakkan hukum.
“Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala, Tuhan Yang Maha Kuasa, senantiasa memberikan petunjuk, kekuatan dan perlindungan kepada kita dalam menjaga bangsa, menegakkan hukum dan mengabdi kepada masyarakat, bangsa dan negara tercinta, Persatuan Republik Indonesia. Terima kasih,” pungkasnya.



