“apa gunanya mereka hire ahli gizi sih????” tulis akun @fao***.
Komentar lain juga mempertanyakan sosok ahli gizi yang terlibat dalam penyusunan menu tersebut.
“Ahli gizinya siapa ini woi jukut goreng,” tulis akun @am***.
Komentar serupa datang dari pengguna lainnya yang mempertanyakan konsep makanan bergizi dalam menu tersebut.
“Konsepnya makanan bergizi.. darimana konsepnya kalo ada jukut goreng gw tanya??? Parah banget ide menu makan yg mereka bikin,” tulis @jes***.
Perbincangan mengenai jukut goreng sebagai menu MBG Boyolali kemudian menyebar di media sosial.
Unggahan terkait persiapan menu tersebut menjadi perhatian publik dan memicu beragam komentar.
Sorotan utama warganet bukan hanya soal keberadaan jukut goreng, tetapi juga bagaimana standar penyusunan menu MBG diterapkan di tingkat SPPG.
Meski demikian, reaksi di media sosial tersebut merupakan pendapat warganet.
Penilaian mengenai kandungan gizi dan kelayakan menu tetap perlu mengacu pada standar gizi serta penjelasan pihak SPPG maupun ahli gizi yang bertanggung jawab.
Kasus ini pun kembali memunculkan perhatian terhadap pentingnya transparansi penyusunan menu dalam program MBG, terutama karena makanan tersebut diberikan kepada penerima manfaat dalam jumlah besar.



