Hingga 1 Agustus 2026, lebih dari 9.000 warga masih tinggal di tempat-tempat pengungsian.
Sebagian besar pengungsi merupakan warga lanjut usia yang belum bisa kembali ke rumah karena kerusakan bangunan dan masih adanya kekhawatiran terhadap gempa susulan.
Pemerintah daerah bersama berbagai instansi masih terus menyalurkan bantuan berupa makanan, air bersih, selimut, layanan kesehatan, dan kebutuhan pokok lainnya bagi para korban.
Gempa kali ini kembali mengingatkan Jepang pada bencana besar yang pernah melanda Prefektur Kumamoto pada 2016.
Saat itu, rangkaian gempa kuat menewaskan 273 orang dan menyebabkan lebih dari 2.800 orang mengalami luka-luka.
Jepang memang berada di kawasan Cincin Api Pasifik atau Ring of Fire, salah satu wilayah dengan aktivitas gempa bumi paling tinggi di dunia.
Kondisi tersebut membuat negara ini kerap mengalami gempa besar sehingga pemerintah terus memperkuat sistem mitigasi bencana dan standar bangunan tahan gempa.
Meski demikian, gempa berkekuatan besar tetap berpotensi menimbulkan korban jiwa, terutama ketika memicu runtuhnya bangunan atau kebakaran seperti yang terjadi di beberapa lokasi terdampak kali ini.
Dengan dihentikannya operasi pencarian, fokus pemerintah Jepang kini beralih pada proses pemulihan pascabencana, termasuk membantu ribuan warga yang masih mengungsi serta mempercepat perbaikan infrastruktur yang rusak akibat gempa.



