JAKARTA, HOLOPIS.COM – Jauh sebelum Guruh Gipsy jadi legenda, Guruh Soekarnoputra nekat menyatukan rock Barat dan gamelan Bali dalam eksperimen musik yang tak biasa.
Nama Guruh Soekarnoputra tak hanya lekat dengan dunia seni dan budaya Indonesia.
Putra bungsu Presiden Soekarno dan Fatmawati itu juga meninggalkan jejak penting dalam sejarah musik Tanah Air lewat proyek musik eksperimental Guruh Gipsy, yang memadukan rock progresif Barat dengan gamelan Bali.
Guruh telah memperkenalkan gagasan musik yang terbilang berani pada masanya.
Salah satu karya yang paling dikenang adalah album Guruh Gipsy, hasil kolaborasi Guruh dengan para personel kelompok musik Gipsy, yakni Keenan Nasution, Chrisye, Abadi Soesman, Roni Harahap, dan Oding Nasution.
Proyek tersebut mulai digarap pada 1975. Guruh kemudian menggandeng musisi tradisional Bali, I Gusti Kompyang Raka, untuk mempertemukan karakter musik rock progresif dengan instrumen dan nuansa musik tradisional Nusantara.
Eksperimen itu menghasilkan perpaduan yang tak biasa.
Keyboard, gitar elektrik, dan elemen rock progresif berpadu dengan gamelan Bali serta berbagai instrumen tradisional.
Proses rekaman album Guruh Gipsy berlangsung di Tri Angkasa Music Laboratory sejak Juli 1975 hingga November 1976.
Guruh mengarahkan langsung proses kreatif dan aransemen musik tersebut.
Salah satu karya yang kemudian dikenal dari album itu adalah “Indonesia Maharddhika”.
Ada pula “Chopin Larung” yang menampilkan vokal khas Chrisye, serta “Barong Gundah” dan “Janger 1897 Saka” yang kuat dengan nuansa musik Bali.
Keterlibatan Chrisye dalam proyek tersebut juga menjadi bagian menarik dari perjalanan Guruh Gipsy.



