HOLOPIS.COM, JAKARTA – Lima jurnalis hilang kontak saat meliput Anak Krakatau. Namun, fakta BMKG soal kondisi cuaca ketika insiden terjadi justru bikin tanda tanya.
Hilangnya lima jurnalis saat hendak meliput erupsi Gunung Anak Krakatau pada Senin, 7 September 2026, masih menyisakan tanda tanya.
Dugaan cuaca buruk sempat dikaitkan dengan insiden tersebut, tetapi fakta dari BMKG justru menunjukkan kondisi berbeda.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memastikan tidak ada kondisi cuaca ekstrem yang dapat dikaitkan dengan hilangnya rombongan jurnalis tersebut.
Plh Direktur Meteorologi Publik BMKG Ida Pramuwardani mengungkapkan, kondisi cuaca di sekitar Gunung Anak Krakatau ketika insiden terjadi tergolong baik.
Menurut Ida, berdasarkan pengamatan BMKG, cuaca saat itu berada dalam kondisi cerah hingga berawan.
Tidak terdapat hujan signifikan yang mengguyur kawasan tersebut.
“Beberapa hari itu kondisi cuacanya cukup baik sampai dengan ke depan, tiga hari ke depan itu kondisi cuaca di sekitar Gunung Anak Krakatau tidak menunjukkan adanya potensi hujan yang signifikan. Gelombangnya juga,” ujar Ida, dikutip Holopis.com, Jumat (!1/9/2026).
Fakta tersebut sekaligus membantah dugaan bahwa cuaca buruk menjadi penyebab hilang kontaknya lima jurnalis yang berada di sekitar Gunung Anak Krakatau.
Tak hanya hujan, kondisi angin juga disebut tidak menunjukkan adanya situasi ekstrem.
BMKG mencatat kecepatan angin maksimal sekitar 15 knot atau 7,5 meter per detik.
“Sehingga untuk kecepatan anginnya pun tidak terlalu kuat,” kata Ida.
Kondisi gelombang di sekitar kawasan Anak Krakatau juga menjadi perhatian.




