JAKARTA, HOLOPIS.COM – Guru sejarah, penggiat pendidikan, dan Kepala Bidang Advokasi Guru Perhimpunan Pendidikan dan Guru (P2G), Iman Zanatul Haeri melontarkan kritik terhadap pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG), terutama setelah kembali muncul insiden dugaan keracunan massal yang menimpa ratusan siswa. Menurutnya, program tersebut justru memunculkan persoalan baru di tengah dunia pendidikan.
Dalam pernyataannya, Iman menyoroti penggunaan anggaran pendidikan untuk membiayai program yang dinilainya bukan merupakan komponen inti penyelenggaraan pendidikan. Ia menilai kondisi tersebut menjadi ironi ketika di saat yang sama masih terjadi insiden keamanan pangan dalam pelaksanaan MBG.
“Tidak ada paradoks yang sulit dijelaskan lintas zaman, ketika anggaran pendidikan diambil oleh program yang bukan komponen utama pendidikan, dan akibat dari program tersebut siswa kita mengalami keracunan masal yang terus terjadi tanpa henti,” kata Iman dalam keterangannya, Minggu (2/8/2026).
Ia menilai dampak kebijakan tersebut dirasakan oleh berbagai pihak, mulai dari tenaga pendidik hingga peserta didik. Menurutnya, kesejahteraan insan pendidikan turut terdampak, sementara para siswa yang datang ke sekolah untuk belajar justru menghadapi risiko gangguan kesehatan akibat makanan program MBG.
“Mereka yang bekerja di dunia pendidikan, mengalami penurunan kesejahteraan dan siswa yang niat belajar ke sekolah justru mendapatkan racun. Ruginya dua kali. Tiga kali ding,” ujarnya.
Iman juga menyebut dampak kebijakan itu tidak hanya dirasakan oleh siswa maupun tenaga pendidik, tetapi juga masyarakat luas sebagai pembayar pajak yang ikut membiayai program pemerintah.
“Buat yang tidak keracunan, dan tidak bekerja di dunia pendidikan juga kena imbas. Mereka ini para pembayar pajak,” ucapnya.
Pernyataan tersebut disampaikan di tengah sorotan terhadap pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis setelah sejumlah kasus dugaan keracunan makanan terjadi di berbagai daerah. Salah satu insiden terbaru terjadi di Kota Semarang, Jawa Tengah, yang mengakibatkan ratusan siswa dan guru mengalami keluhan kesehatan setelah mengonsumsi makanan MBG.
Hingga kini, pemerintah melalui Badan Gizi Nasional (BGN) masih melakukan evaluasi terhadap pelaksanaan program tersebut, termasuk investigasi penyebab insiden keamanan pangan serta perbaikan standar operasional penyediaan makanan bagi para penerima manfaat.
Langkah Perbaikan Tata Kelola MBG
Dalam statemennya, Kepala BGN (Badan Gizi Nasional) Sudaryono sempat menyampaikan permohonan maaf kepada para korban keracunan menu santap MBG di SMK Negeri 6 Semarang. Mereka berjumlah 693 siswa dan 14 guru. Semuanya dirujuk ke sejumlah rumah sakit, antara lain RS Permata Medika Semarang, RST Bhakti Wira Tamtama, RS Pantiwilasa Citarum, dan RSUD KRMT Wongsonegoro.
“Terima kasih kepada tim medis yang sigap. Teruntuk Naya dan sang kakek, Bapak Mustari—yang ternyata sesama sedulur asal Grobogan—saya memohon maaf yang sebesar-besarnya. Lekaslah pulih, Naya. Negara terus berbenah demi kalian,” ucap Sudaryono.
Selain itu, Sudaryono juga menyatakan telah melakukan suspend terhadap dapur SPPG atas insiden tersebut. Sekaligus melakukan langkah-langkah konkret untuk memastikan insiden keracunan semacam ini tidak terulang kembali.


