Ekonom Senior Minta Prabowo Nggak Jadikan Purbaya Gubernur BI: Tak Punya Kapasitas!

0 Shares

JAKARTA, Holopis.comEkonom senior Ferry Latuhihin meminta Presiden Prabowo tak menunjuk Purbaya sebagai Gubernur BI karena dinilai tak memiliki kapasitas.

Isu yang menyebut Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa berpotensi menempati kursi Gubernur Bank Indonesia (BI) memicu perdebatan di kalangan ekonom.

Salah satu kritik paling keras datang dari ekonom senior Ferry Latuhihin yang secara terbuka meminta Presiden Prabowo Subianto tidak mengambil langkah tersebut.

Menurut Ferry, jabatan Gubernur Bank Indonesia membutuhkan figur yang memiliki kemampuan teknis, pengalaman, dan kredibilitas tinggi dalam bidang moneter.

Karena itu, ia menilai Purbaya Yudhi Sadewa bukan sosok yang tepat untuk memimpin bank sentral.

Pernyataan tersebut disampaikan Ferry saat menjadi narasumber dalam kanal YouTube Helmy Yahya Berbicara.

- Advertisement -

Ia mengatakan tidak mempermasalahkan siapa pun yang akan menduduki kursi Menteri Keuangan apabila Presiden Prabowo melakukan perubahan dalam kabinetnya.

Namun, menurut dia, memindahkan Purbaya dari Kementerian Keuangan ke Bank Indonesia justru akan menjadi keputusan yang berisiko.

“Kalau dia memang mampu, enggak apa-apa, tapi masalahnya dia enggak punya dasar yang kuat,” kata Ferry Latuhihin.

Ia menegaskan bahwa persoalan yang dipermasalahkannya bukan pergantian Menteri Keuangan, melainkan kemungkinan perpindahan Purbaya ke posisi Gubernur Bank Indonesia.

“Mau siapa pun jadi Menkeu, tapi tidak dengan memindahkan Purbaya ke BI,” ujarnya.

Menurut Ferry, tugas Bank Indonesia sangat berbeda dengan kementerian teknis.

Jabatan Gubernur BI membutuhkan kemampuan membaca pasar, mengelola kebijakan moneter, menjaga stabilitas rupiah, serta membangun kepercayaan investor terhadap ekonomi Indonesia.

Ia menilai masalah utama yang sedang dihadapi Indonesia saat ini bukan semata-mata persoalan suku bunga atau nilai tukar rupiah, melainkan menyangkut kepercayaan investor.

Ferry menyinggung kondisi ketika nilai tukar rupiah sempat mengalami tekanan hingga mendekati level Rp18 ribu per dolar Amerika Serikat.

Pada saat itu, menurut dia, Purbaya menunjukkan sikap yang sangat mempercayakan penanganan stabilitas nilai tukar kepada Bank Indonesia.

Bank Indonesia kemudian merespons tekanan tersebut dengan menaikkan suku bunga acuan.

Pada 9 Juni 2026, Bank Indonesia menaikkan BI Rate sebesar 25 basis poin menjadi 5,50 persen.

Kenaikan tersebut dilakukan hanya sekitar 20 hari setelah keputusan sebelumnya pada Mei 2026 yang menaikkan suku bunga sebesar 50 basis poin menjadi 5,25 persen.

Namun, menurut Ferry, kebijakan menaikkan suku bunga tidak otomatis mampu menarik kembali minat investor asing apabila persoalan mendasar yang dihadapi adalah hilangnya kepercayaan terhadap kondisi ekonomi dan arah kebijakan pemerintah.

Menurut dia, investor tidak hanya mempertimbangkan besaran imbal hasil, tetapi juga melihat kepastian hukum, stabilitas politik, serta konsistensi kebijakan ekonomi yang diterapkan pemerintah.

“Karena dia tidak punya basic sama sekali, sekarang tugas BI apa sih? Kalau dia mau jadi gubernur, dia mau apa? Mau memperbaiki rupiah? Naikin suku bunga? Enggak mungkin,” kata Ferry.

Ia menilai langkah menaikkan suku bunga hingga beberapa persen sekalipun belum tentu efektif apabila kepercayaan investor belum pulih.

“Mau naikin suku bunga beberapa persen juga enggak dimakan, karena persoalannya adalah trust,” ujarnya.

Menurut Ferry, kepercayaan merupakan faktor yang sangat menentukan dalam menjaga stabilitas ekonomi.

Ketika kepercayaan pasar melemah, berbagai instrumen kebijakan moneter dapat kehilangan efektivitasnya.

Ia bahkan mengingatkan bahwa cadangan devisa negara bisa terus tergerus apabila kebijakan yang ditempuh tidak mampu mengembalikan keyakinan pelaku pasar.

“Cadangan devisa bisa habis, tapi dia merasa prestise kalau bisa jadi Gubernur BI,” kata Ferry.

Karena itu, ia berharap Presiden Prabowo Subianto mempertimbangkan secara matang apabila nantinya akan menunjuk sosok baru untuk memimpin Bank Indonesia.

Ferry menegaskan jabatan Gubernur BI tidak boleh dipandang sebagai posisi yang sekadar bergengsi.

Menurut dia, kursi tersebut harus diisi figur yang memiliki kapasitas, pengalaman, dan rekam jejak kuat dalam bidang moneter.

Di akhir pernyataannya, Ferry bahkan secara langsung menyampaikan permohonan kepada Presiden Prabowo agar tidak memindahkan Purbaya Yudhi Sadewa ke Bank Indonesia.

“Jadi Pak Presiden please jangan pindahkan dia jadi Gubernur BI, karena dia tidak punya kapasitas dan pengalaman sama sekali,” kata Ferry.

Belakangan, media sosial memang diramaikan berbagai spekulasi mengenai kemungkinan terjadinya perombakan kabinet.

Isu tersebut muncul bersamaan dengan kabar yang menyebut Presiden Prabowo Subianto tengah mempertimbangkan mantan Menteri Keuangan Chatib Basri untuk kembali masuk pemerintahan.

Seiring berkembangnya isu tersebut, muncul pula kabar bahwa Purbaya Yudhi Sadewa akan digeser dari kursi Menteri Keuangan dan ditempatkan sebagai Gubernur Bank Indonesia.

Spekulasi itu semakin ramai diperbincangkan setelah berbagai rumor mengenai pergantian pejabat ekonomi beredar di media sosial.

Namun pemerintah telah membantah isu tersebut.

Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi menegaskan bahwa Presiden Prabowo Subianto belum memiliki rencana untuk mengganti Menteri Keuangan.

“Saya kira tadi sore juga sudah disampaikan oleh Beliau. Tidak ada, tidak ada rencana pergantian,” kata Prasetyo.

Ia juga memastikan belum ada agenda pembahasan mengenai perombakan posisi Menteri Keuangan.

Di sisi lain, Purbaya Yudhi Sadewa turut membantah kabar mengenai pengunduran dirinya.

Dalam pesan singkat kepada Kompas.com, ia memastikan isu tersebut tidak benar.

“Tidak benar,” kata Purbaya.

Meski demikian, perdebatan mengenai sosok yang layak memimpin Bank Indonesia terus berkembang.

Hingga saat ini, pemerintah menegaskan belum ada rencana pergantian Menteri Keuangan maupun pembahasan terkait perpindahan Purbaya Yudhi Sadewa ke Bank Indonesia.

Dengan demikian, isu mengenai kemungkinan tersebut masih sebatas spekulasi yang berkembang di ruang publik.

Cloud Startup - Bikin Website Kamu Makin Ngebut
Ikuti kami di Google News lalu klik ikon bintang. Atau kamu juga bisa follow WhatsaApp Holopis.com Channel untuk dapat update 10 berita pilihan redaksi dan breaking news.
Gesha Yuliani Nattasya
Muhammad Ibnu Idris
Gesha Yuliani Nattasya, Muhammad Ibnu Idris
Tim Redaksi :

SELURUH ISI KONTEN BUKAN TANGGUNG JAWAB REDAKSI HOLOPIS.COM

Berita Lainnya

DKI JAKARTA
☀️
00:00:00
Memuat Kalender...
MEMUAT... - ---- H
MEMUAT... 00:00
-- : -- : --

YANG BARU