HOLOPIS.COM, JAKARTA – Aktor Iqbaal Ramadhan kembali menunjukkan kemampuan aktingnya melalui film terbaru berjudul Monster Pabrik Rambut karya sutradara Edwin. Film yang dijadwalkan tayang di bioskop mulai 4 Juni 2026 ini menjadi pengalaman baru bagi Iqbaal karena untuk pertama kalinya ia terlibat dalam proyek film bergenre horor.
Dalam film tersebut, Iqbaal tak hanya dituntut menghadirkan emosi yang kuat, tetapi juga harus beradaptasi dengan berbagai elemen horor yang belum pernah ia jalani sebelumnya. Kehadirannya di Monster Pabrik Rambut pun menjadi salah satu hal yang paling dinantikan oleh para penggemar yang ingin melihat sisi berbeda dari kemampuan aktingnya.
Salah satu hal yang paling menarik perhatian Iqbaal selama proses produksi adalah penggunaan practical effect atau efek fisik yang dibuat secara langsung di lokasi syuting. Menurutnya, pendekatan tersebut memberikan pengalaman yang jauh lebih nyata dibandingkan mengandalkan teknologi digital semata.
“Dari awal bahwa saya tahu bahwa akan banyak menggunakan practical effect, buat saya ini adalah hal yang amat sangat menarik untuk dieksplorasi,” ujar Iqbaal.
Iqbaal menilai penggunaan efek fisik terasa lebih manusiawi di tengah pesatnya perkembangan teknologi visual saat ini. “Bahwa dengan kecanggihan teknologi dan percepatan artificial intelligence, adanya practical effect yang fisikal ini tuh rasanya sangat-sangat manusiawi,” lanjutnya.
Bagi Iqbaal, penggunaan teknik tersebut juga menghadirkan nuansa yang unik. Meski terkesan retro, aktor kelahiran 28 Desember 1999 tersebut melihat gaya tersebut justru memiliki daya tarik tersendiri bagi generasi muda saat ini.
“Walaupun kesannya terkesan retro, yang mana itu sesuatu yang keren dan digandrungi oleh generasi saya hari ini, tapi ini juga sebuah bentuk yang udah lama tidak kita lihat,” katanya.
Tak hanya menawarkan teror dan visual yang berbeda, Monster Pabrik Rambut juga membawa pesan sosial yang relevan dengan kehidupan generasi muda saat ini. Menurut Iqbaal, banyak orang masih menjadikan angka, pencapaian, dan standar tertentu sebagai tolok ukur nilai diri seseorang, padahal hal tersebut tidak sepenuhnya benar.
“Itu yang berusaha dibahas di film Monster Pabrik Rambut ini. Bagaimana value kita dan harga diri kita tidak diukur dari angka-angka tersebut, kita pasti lebih dari itu,” katanya.
Ia pun berharap Monster Pabrik Rambut bisa menjadi tawaran baru bagi perfilman horor Indonesia sekaligus menghadirkan pengalaman menonton yang dekat dengan realitas generasi masa kini. “Harapannya Monster Pabrik Rambut ini sebagai sebuah film bisa memberi tawaran baru pastinya untuk film horor-horor di Indonesia, terutama untuk yang ada di generasi kita, tutupnya.

