MAKKAH – Wakil Ketua MPR RI, Hidayat Nur Wahid menilai kolaborasi antara petugas haji, pemerintah, dan ulama menjadi faktor penting dalam memastikan pelayanan jemaah berjalan optimal menjelang fase puncak ibadah di Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna).
“Jemaah haji kita mendapatkan bimbingan maksimal dari pimpinan kloter, kepala rombongan, kepala regu, serta kehadiran para ulama besar yang menyertai calon jemaah haji di sini,” kata Hidayat usai meninjau sektor 7 Misfalah, Makkah, Jumat (22/5/2026).
Dalam kunjungannya ke lokasi penempatan jemaah Kloter JKG 02 Jakarta Selatan itu, Hidayat mengaku bersyukur melihat kesiapan pendampingan yang diberikan kepada para jemaah menjelang puncak ibadah haji.
Menurutnya, keterlibatan tokoh agama seperti pengurus Majelis Ulama Indonesia hingga ulama daerah menjadi kekuatan tersendiri untuk memastikan pelaksanaan ibadah tetap sesuai tuntunan fikih sekaligus menyesuaikan kondisi lapangan yang telah diatur pemerintah Indonesia dan Arab Saudi.
Ia menilai pola komunikasi antara petugas dan pembimbing agama tersebut ideal diterapkan di seluruh kloter haji Indonesia karena mampu membantu menyelesaikan persoalan jemaah sejak dini.
“Permasalahan di tingkat kloter akan terselesaikan, bahkan sebelum masalah muncul, jemaah sudah mendapatkan solusi,” ujarnya.
Hidayat juga mengingatkan pentingnya pelayanan optimal mengingat sebagian besar jemaah telah menunggu bertahun-tahun untuk bisa menunaikan ibadah haji.
Karena itu, ia turut mengecek langsung berbagai aspek pelayanan mulai dari transportasi, akomodasi, hingga konsumsi jemaah. Menurutnya, secara umum para jemaah tidak menyampaikan keluhan berarti selama berada di Makkah.
Meski demikian, Hidayat meminta seluruh kekurangan yang masih ditemukan di lapangan segera dilaporkan agar dapat dibahas bersama kementerian terkait untuk dilakukan perbaikan.
“Kalau ada hal yang perlu diperbaiki, laporkan kepada saya sebagai wakil rakyat untuk dibicarakan perbaikannya dengan kementerian berwenang, bukan sekadar mencari kesalahan,” tegasnya.
Selain itu, perhatian khusus juga diberikan kepada jemaah lansia dan difabel yang dinilai membutuhkan pelayanan berbeda baik dari sisi kesehatan maupun pelaksanaan ibadah.
“Lansia memiliki hukum dan rukhsah tersendiri secara fikih. Secara medis juga dimungkinkan mereka tidak sepenuhnya bisa melaksanakan ibadah,” kata Hidayat.
Ia menyebut pemerintah melalui Kementerian Agama Republik Indonesia telah menyiapkan layanan khusus bagi kelompok rentan tersebut. Namun pengawasan tetap akan diperkuat agar pelayanan maksimal benar-benar terlaksana saat puncak haji berlangsung.
“Kami akan mengadakan rapat dengan menteri untuk mengingatkan agar seluruh daya upaya benar-benar dimaksimalkan dalam membantu calon jemaah haji,” tandasnya.


