JAKARTA – Marsinah merupakan salah satu aktivis buruh paling dikenal dalam sejarah Indonesia. Ia dikenang sebagai sosok pekerja perempuan yang vokal memperjuangkan hak-hak buruh di era Orde Baru, terutama terkait upah minimum dan kesejahteraan pekerja pabrik.
Nama Marsinah menjadi simbol perjuangan kaum buruh setelah dirinya ditemukan tewas secara mengenaskan pada Mei 1993 usai terlibat dalam aksi perjuangan pekerja di sebuah pabrik arloji di Sidoarjo, Jawa Timur. Kasus kematiannya hingga kini masih menjadi salah satu perkara pelanggaran HAM yang paling banyak disorot publik.
Atas perjuangan dan pengorbanannya, Marsinah kini telah ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional Indonesia. Presiden Prabowo Subianto bahkan mengaku bangga dapat mengangkat Marsinah sebagai Pahlawan Nasional dari kalangan buruh.
Baru-baru ini, Prabowo juga berziarah ke makam Marsinah di Kabupaten Nganjuk usai meresmikan Museum Ibu Marsinah dan rumah singgah pada Sabtu, 16 Mei 2026.
Biodata Marsinah
Nama Lengkap: Marsinah
Nama Panggilan: Marsinah
Tempat, Tanggal Lahir: Nglundo, Nganjuk, Jawa Timur, 10 April 1969
Tempat, Tanggal Wafat: Wilangan, Nganjuk, Jawa Timur, 8 Mei 1993
Zodiak: Aries
Weton: Kamis Pon
Shio: Ayam Tanah
Pendidikan: SD Negeri Karangasem, Nganjuk, SMP Negeri 5 Nganjuk, SMA Muhammadiyah 1 Nganjuk.
Profesi: Buruh pabrik, aktivis buruh, pejuang hak pekerja
Biografi Lengkap Marsinah
Marsinah lahir di Desa Nglundo, Kecamatan Sukomoro, Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur pada 10 April 1969. Ia merupakan anak kedua dari tiga bersaudara pasangan Astin dan Sumini.
Sejak kecil, kehidupan Marsinah sudah dipenuhi kesulitan ekonomi. Ibunya meninggal dunia saat ia masih berusia sekitar tiga tahun. Setelah itu, Marsinah diasuh oleh neneknya bernama Paerah bersama paman dan bibinya.
Meski hidup sederhana, Marsinah dikenal sebagai anak yang cerdas, kritis, dan gemar membaca. Ia juga dikenal pekerja keras karena sejak kecil membantu keluarganya berdagang gabah dan jagung sepulang sekolah.

Pada 1989, Marsinah merantau ke Surabaya untuk mencari pekerjaan. Ia sempat bekerja di pabrik plastik kawasan Rungkut dan pernah berjualan nasi bungkus demi menambah penghasilan.
Beberapa waktu kemudian, Marsinah bekerja di PT Catur Putra Surya (CPS), sebuah pabrik arloji di Porong, Sidoarjo. Di tempat inilah ia mulai dikenal sebagai buruh yang aktif memperjuangkan hak pekerja.
Pada awal 1993, buruh PT CPS melakukan aksi menuntut kenaikan upah sesuai ketetapan gubernur Jawa Timur. Marsinah menjadi salah satu sosok yang paling vokal dalam perjuangan tersebut dan ikut menjadi juru bicara para pekerja.
Situasi memanas setelah sejumlah buruh dipanggil aparat militer dan dipaksa mengundurkan diri. Marsinah kemudian mendatangi kantor Kodim Sidoarjo untuk meminta penjelasan terkait perlakuan terhadap rekan-rekannya.
Namun setelah itu, Marsinah menghilang.
Beberapa hari kemudian, tepatnya 8 Mei 1993, jasad Marsinah ditemukan di wilayah Wilangan, Nganjuk, dalam kondisi mengenaskan dengan tanda-tanda penyiksaan berat. Kematiannya memicu perhatian nasional maupun internasional dan menjadi simbol represi terhadap gerakan buruh di masa Orde Baru.
Kasus Marsinah sempat disidangkan, namun proses hukumnya menuai kontroversi. Sejumlah terdakwa akhirnya dibebaskan setelah pengakuan mereka dinilai diperoleh melalui tekanan dan penyiksaan. Hingga kini, pelaku utama pembunuhan Marsinah belum pernah terungkap secara tuntas.
Meski demikian, nama Marsinah terus dikenang sebagai simbol keberanian perempuan dan perjuangan hak-hak pekerja di Indonesia. Berbagai organisasi buruh, kelompok HAM, dan aktivis perempuan terus memperingati perjuangannya setiap tahun.
Pada 2025, pemerintah Indonesia melalui Keputusan Presiden Republik Indonesia (Keppres) Nomor 116/TK/Tahun 2025 tanggal 6 November 2025, resmi menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada Marsinah. Penghargaan itu menjadikannya salah satu tokoh buruh paling berpengaruh dalam sejarah Indonesia modern.
Penghargaan tersebut merupakan bentuk penghargaan negara atas jasa-jasa luar biasa para tokoh dalam mencapai, merebut, mempertahankan, dan mengisi kemerdekaan serta mewujudkan persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia.
Kini, jasad Marsinah bersemayam di Tempat Pemakaman Umum (TPU) yang ada di Desa Nglundo, Kecamatan Sukomoro, Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur.


