Jepang Lepas Rudal Tempur dari Filipina, China Singgung Luka Lama Perang Dunia II

0 Shares

HOLOPIS.COM, JAKARTA – Ketegangan geopolitik di kawasan Asia Timur kembali meningkat setelah Jepang menembakkan rudal permukaan ke kapal Tipe 88 dalam latihan militer gabungan di Filipina. Langkah Tokyo itu langsung memicu kemarahan China.

Beijing menilai manuver Jepang sedang mempercepat agenda remiliterisasi.

Latihan militer tersebut merupakan bagian dari manuver gabungan ‘Balikatan” yang melibatkan Amerika Serikat (AS), Filipina, Kanada, dan Australia. Dalam latihan itu, Jepang untuk pertama kalinya sejak Perang Dunia II meluncurkan rudal ofensif di luar wilayah negaranya.

Kementerian Luar Negeri China menilai tindakan tersebut bukan sekadar latihan biasa. Tapi, sebagai sinyal berbahaya kebangkitan kekuatan militer Jepang di kawasan.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Lin Jian, mengatakan pengiriman pasukan militer Jepang ke luar negeri serta peluncuran rudal ofensif dilakukan dengan dalih kerja sama keamanan.

“Ini adalah contoh lain dari dorongan kekuatan sayap kanan Jepang untuk mempercepat remiliterisasi Jepang,” kata Lin Jian dalam konferensi pers dikutip dari China Daily, Kamis, (7/5/2026).

- Advertisement -

Menurut Beijing, sejumlah kebijakan pertahanan Tokyo kini dianggap telah melampaui batas prinsip pertahanan diri yang selama ini menjadi fondasi pascaperang Jepang.

Lin menuding kelompok sayap kanan di Jepang berulang kali melanggar kebijakan pertahanan negara mereka sendiri. Hal itu termasuk aturan hukum internasional dan domestik. “Beberapa kebijakan dan tindakan mereka telah melampaui batas-batas pembelaan diri,” ujarnya.

Dari laporan Xin Hua, China juga mengaitkan langkah militer terbaru Jepang dengan sejarah kelam Perang Dunia II. Beijing mengingatkan bahwa Jepang pernah melakukan invasi dan kolonialisasi terhadap Filipina serta sejumlah negara Asia Tenggara lainnya.

Maka itu, China menilai Jepang memiliki tanggung jawab sejarah yang besar dan seharusnya lebih berhati-hati dalam kebijakan keamanan kawasan.

Lin mengatakan dunia saat ini tengah memperingati 80 tahun dibukanya Pengadilan Tokyo. Namun, Jepang justru dianggap gagal melakukan refleksi mendalam atas sejarah agresi militernya.

“Jepang, sebagai agresor, tidak hanya gagal merenungkan secara mendalam kejahatan historisnya,” ujar Lin dikutip dari Xin Hua.

“Bahkan, telah mengirim pasukan militer ke luar negeri dan menembakkan rudal ofensif dengan dalih kerja sama keamanan,” kata Lin.

Pemerintah China juga menyoroti meningkatnya neo-militerisme di Jepang yang dinilai dapat mengganggu stabilitas Asia-Pasifik.

“Kurangnya pendidikan tentang sejarah yang sebenarnya, pandangan sejarah yang pada dasarnya salah, ditambah dengan strategi persenjataan kembali militer dan persiapan perang,” tutur Lin.

Pun, Beijing mendesak Tokyo agar kembali menghormati komitmen damai pascaperang dan tidak mengambil langkah yang memicu ketegangan baru di kawasan.

“Kami mendesak pihak Jepang untuk merenungkan secara mendalam sejarah agresi militeristiknya, dan menghormati komitmennya serta tetap berhati-hati di bidang militer dan keamanan,” ujar Lin.

Cloud Startup - Bikin Website Kamu Makin Ngebut
Ikuti kami di Google News lalu klik ikon bintang. Atau kamu juga bisa follow WhatsaApp Holopis.com Channel untuk dapat update 10 berita pilihan redaksi dan breaking news.
Dani Yoga
Dani Yoga
Tim Redaksi :

Berita Lainnya

YANG BARU