Lebanon Tolak Keras! Tak Ada Damai Tanpa Penarikan Penuh Pasukan Israel

0 Shares

HOLOPIS.COM, JAKARTALebanon kini memainkan strategi diplomasi berisiko tinggi dengan menggantungkan harapan pada Amerika Serikat (AS) untuk menekan Israel. Langkah Lebanon dilakukan di tengah negosiasi yang kembali dibuka setelah puluhan tahun.

Namun, di saat Beirut mendorong solusi damai, sikap keras Israel justru membuat peluang kesepakatan semakin tipis.

- Advertisement -

Menjelang putaran kedua pembicaraan langsung yang jarang terjadi, Perdana Menteri Lebanon Nawaf Salam secara terbuka meminta pemerintahan Presiden AS Donald Trump untuk menggunakan pengaruhnya terhadap Israel.

Dalam wawancara dengan media internasional, Salam menyampaikan Lebanon tak akan menerima kesepakatan yang setengah hati.

- Advertisement -

Beberapa hari setelah militer Israel merilis peta zona penyangga di Lebanon selatan yang diklaim untuk mencegah serangan Hizbullah, posisi Beirut semakin tegas. Tak ada kompromi tanpa penarikan penuh pasukan Israel.

“Kita tidak bisa hidup dengan apa yang disebut zona penyangga,” kata Salam, dikutip pada Jumat, (24/4/2026).

Dia menyindir kehadiran Israel sama dengan mengusik rakyat Lebanon.

“Kehadiran Israel di mana pengungsi Lebanon tidak diizinkan untuk kembali, di mana desa dan kota yang hancur tidak dapat dibangun Kembali,” tutur Salam.

Di tengah kebuntuan, Lebanon mendorong perpanjangan gencatan senjata yang dimediasi Washington. Dari Paris, Salam menyampaikan langkah serupa seperti yang dilakukan Trump dalam memperpanjang gencatan senjata antara AS dan Iran.

Namun, situasi di lapangan menunjukkan arah berbeda. Israel menegaskan bahwa operasi militernya tidak akan berhenti sebelum Hezbollah benar-benar dilemahkan.

Sementara itu, upaya membuka jalur diplomasi tetap berjalan. Para pejabat Lebanon dan Israel dijadwalkan kembali bertemu di Washington.

Pertemuan langka yang menjadi pertama dalam beberapa dekade, sebagai bagian dari dorongan AS untuk normalisasi hubungan yang selama ini ditolak oleh Hezbollah.

Bagi Lebanon, isu utama bukan sekadar gencatan senjata, tetapi masa depan wilayah dan rakyatnya. Pemerintah di Beirut menargetkan perpanjangan gencatan senjata selama 10 hari untuk membuka jalan bagi penarikan militer Israel dan kepulangan lebih dari satu juta pengungsi.

Namun, realitas di lapangan masih jauh dari harapan. Israel bahkan memperingatkan warga Lebanon agar tidak kembali ke desa-desa di selatan yang kini berada di bawah kendalinya.

Salam menilai keterlibatan Washington sebagai faktor penentu dalam negosiasi yang rapuh ini.

“Kami memasuki negosiasi yang diselenggarakan oleh AS ini dengan keyakinan bahwa AS adalah pihak yang dapat memiliki pengaruh terhadap Israel,” kata Salam.

Bagi dia, peran AS sangat penting dalam mencapai gencatan senjata. “Dan, kami berharap mereka akan terus menggunakan pengaruh mereka terhadap Israel,” tutur Salam.

- Advertisement -
Ikuti kami di Google News lalu klik ikon bintang. Atau kamu juga bisa follow WhatsaApp Holopis.com Channel untuk dapat update 10 berita pilihan redaksi dan breaking news.
0 Shares
Cloud Startup - Bikin Website Kamu Makin Ngebut

Berita Terkait

Berita Lainnya

DKI JAKARTA
☀️
00:00:00
Memuat Kalender...
MEMUAT... - ---- H
MEMUAT... 00:00
-- : -- : --

Berita Terbaru