BRICS Borong Emas, Sinyal Dunia Mulai Tinggalkan Dominasi Dolar AS?

0 Shares

HOLOPIS.COM, JAKARTA – Langkah negara-negara BRICS dalam beberapa tahun terakhir kian mencuri perhatian. Blok ekonomi yang kini mencakup sejumlah negara berkembang besar itu semakin agresif menambah cadangan emas, di tengah lonjakan harga komoditas tersebut dan meningkatnya ketidakpastian geopolitik global.

BRICS yang awalnya terdiri dari Brasil, Rusia, India, China, dan Afrika Selatan, kini berkembang menjadi kekuatan ekonomi signifikan dengan kontribusi sekitar 40 persen terhadap ekonomi dunia dan hampir setengah populasi global. Di balik langkah akumulasi emas ini, tersimpan sinyal perubahan besar dalam sistem keuangan global.

- Advertisement -

Alih-alih sekadar strategi investasi, peningkatan cadangan emas dinilai sebagai upaya sistematis untuk mengurangi ketergantungan terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Selama beberapa dekade, dolar AS mendominasi cadangan devisa global, namun porsinya terus menurun dari sekitar 71 persen pada 1999 menjadi hanya sekitar 57 persen saat ini.

Negara-negara BRICS memilih emas karena sifatnya yang netral, atau tidak terikat pada kebijakan satu negara atau otoritas tertentu. Dalam konteks geopolitik yang semakin kompleks, emas dipandang sebagai aset yang lebih aman dari risiko intervensi eksternal.

- Advertisement -

Momentum pergeseran ini semakin menguat setelah peristiwa pembekuan sekitar US$300 miliar cadangan devisa Rusia oleh negara-negara Barat pada 2022. Kejadian tersebut menjadi alarm bagi banyak negara bahwa cadangan dalam bentuk dolar yang disimpan di luar negeri tidak sepenuhnya aman.

Sebaliknya, emas yang disimpan secara fisik di dalam negeri memberikan kendali penuh tanpa risiko pembekuan atau penyitaan oleh pihak asing. Dari perspektif manajemen risiko, hal ini menjadikan emas sebagai aset strategis yang memperkuat kedaulatan finansial suatu negara.

Data menunjukkan, negara-negara BRICS+ kini menguasai lebih dari 6.000 ton cadangan emas. Rusia tercatat memiliki sekitar 2.336 ton, China 2.298 ton, India 880 ton, dan Brasil 145,1 ton. Akumulasi ini bukan terjadi dalam waktu singkat, melainkan hasil dari pembelian agresif yang konsisten dalam beberapa tahun terakhir.

Selain faktor geopolitik, lonjakan utang global juga menjadi pendorong utama. Utang pemerintah AS yang telah melampaui US$39 triliun meningkatkan kekhawatiran terhadap potensi pelemahan nilai dolar dalam jangka panjang.

Dalam situasi tersebut, emas kembali menjadi primadona sebagai instrumen lindung nilai terhadap inflasi dan depresiasi mata uang. Berbeda dengan mata uang fiat yang dapat dicetak tanpa batas, emas memiliki nilai intrinsik yang relatif stabil.

Di sisi lain, BRICS juga mulai menjajaki pembentukan sistem keuangan alternatif berbasis emas dan mata uang negara anggota. Meski masih dalam tahap awal, langkah ini mengarah pada terbentuknya sistem keuangan global yang lebih multipolar, tidak lagi sepenuhnya bergantung pada dolar AS.

- Advertisement -
Ikuti kami di Google News lalu klik ikon bintang. Atau kamu juga bisa follow WhatsaApp Holopis.com Channel untuk dapat update 10 berita pilihan redaksi dan breaking news.
0 Shares
Cloud Startup - Bikin Website Kamu Makin Ngebut

Berita Terkait

Berita Lainnya

DKI JAKARTA
☀️
00:00:00
Memuat Kalender...
MEMUAT... - ---- H
MEMUAT... 00:00
-- : -- : --

Berita Terbaru