HOLOPIS.COM, JAKARTA – Bencana tanah longsor melanda sejumlah pemukiman warga di Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat sejak beberapa hari yang lalu.
Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari mengatakan, kejadian ini dipicu oleh hujan dengan intensitas tinggi yang mengguyur kawasan tersebut dalam durasi cukup lama.
“Sehingga menyebabkan kondisi tanah menjadi labil dan akhirnya longsor di sejumlah titik. Akibat kejadian tersebut, warga di sejunlah wilayah merasakan dampaknya,” kata Abdul Muhari dalam keterangannya yang dikutip Holopis.com, Senin (20/4).
Abdul menjelaskan bahwa peristiwa ini berdampak pada tujuh kecamatan dan tujuh desa, yaitu Kecamatan Cijeruk di Desa Tanjungsari, Kecamatan Nanggung di Desa Curugbitung, Kecamatan Tenjolaya di Desa Tapos I, Kecamatan Cigudeg di Desa Cigudeg, Kecamatan Ciomas di Desa Laladon, Kecamatan Megamendung di Desa Sukakarya, serta Kecamatan Sukajaya di Desa Pasir Madang.
“Sebanyak 15 kepala keluarga atau 55 jiwa tercatat terdampak akibat kejadian ini. Tidak dilaporkan adanya korban jiwa dalam peristiwa,” imbuhnya.
Dari sisi kerugian materiil, tercatat dua unit rumah mengalami kerusakan ringan, satu unit rumah mengalami rusak sedang, serta tiga unit rumah lainnya terdampak.
“Kerusakan yang terjadi tetap memerlukan penanganan dan perhatian lebih lanjut,” ujarnya.
Menyikapi kondisi tersebut, Abdul menegaskan bahwa langkah-langkah penanganan segera dilakukan oleh pihak terkait.
Tak hanya longsor, Abdul menjelaskan bahwa curah hujan dengan intensitas tinggi yang menyebabkan debit air sungai meningkat dan meluap ke permukiman warga di sejumlah wilayah terdampak. Dampak yang ditimbulkan dari kejadian ini cukup luas.
Peristiwa banjir ini terjadi di enam kecamatan dan tujuh desa, yaitu Kecamatan Tamansari di Desa Sirnagalih, Kecamatan Jasinga di Desa Sipak, Kecamatan Ciomas di Desa Laladon dan Desa Sukamakmur, Kecamatan Bojong Gede di Desa Kedung Waringin, Kecamatan Cibinong di Desa Pakansari, serta Kecamatan Sukaraja di Desa Cimandala.
“Dampak yang ditimbulkan cukup luas, dengan total 217 kepala keluarga atau 816 jiwa terdampak akibat kejadian tersebut. Dampak luas tersebut turut diikuti dengan kerugian pada sektor permukiman dan infrastruktur,” terangnya.
Dari sisi kerugian materiil, tercatat sebanyak 209 unit rumah terdampak, satu unit rumah mengalami rusak sedang, serta satu ruas jalan turut terdampak. Kondisi ini menyebabkan terganggunya aktivitas masyarakat serta mobilitas di beberapa wilayah yang terdampak genangan.
Kondisi terkini rumah-rumah yang terdampak banjir telah dibersihkan, dan genangan air dilaporkan mulai berangsur surut sehingga aktivitas masyarakat perlahan kembali normal.
Status kebencanaan di wilayah ini masih mengacu pada Keputusan Gubernur Jawa Barat Nomor 360/Kep.626.BPBD/2025 tentang status siaga darurat bencana banjir, cuaca ekstrem, abrasi, dan tanah longsor di Provinsi Jawa Barat, yang berlaku sejak 15 September 2025 hingga 30 April 2026.
Abdul kemudian mengimbau masyarakat untuk tetap meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bencana hidrometeorologi basah yang masih berpeluang terjadi, terutama di wilayah rawan banjir, tanah longsor, dan cuaca ekstrem.
“Masyarakat diharapkan untuk selalu memantau informasi prakiraan cuaca dari instansi berwenang, menjaga kebersihan lingkungan seperti saluran air dan drainase, serta segera melakukan evakuasi mandiri ke tempat yang lebih aman apabila terdapat tanda-tanda potensi bahaya,” imbaunya.
“Selain itu, pemerintah daerah dan seluruh pemangku kepentingan diharapkan terus memperkuat koordinasi dan kesiapsiagaan guna meminimalkan risiko, ancaman bahaya serta dampak yang ditimbulkan,” sambungnya.

