Geger! Sidang Kasus FH UI Ricuh, Terduga Pelaku Pelecehan Seksual Dimunculkan di Depan Massa

0 Shares

HOLOPIS.COM, Depok — Sidang internal FH UI terkait dugaan pelecehan seksual verbal berujung ricuh setelah 16 mahasiswa terduga pelaku dimunculkan di depan massa yang langsung meluapkan kemarahan dan sorakan keras.

Suasana sidang internal kasus dugaan pelecehan seksual yang melibatkan mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Indonesia (FH UI) berubah panas dan ricuh pada Senin malam (13/4).

Forum yang awalnya digelar untuk klarifikasi justru berkembang menjadi momen penuh ketegangan ketika 16 mahasiswa yang diduga terlibat akhirnya dimunculkan di hadapan massa.

Sejak awal, sidang yang digelar di lingkungan kampus Universitas Indonesia ini sudah dipenuhi tekanan.

Ratusan mahasiswa tampak hadir untuk mengawal jalannya forum, menuntut transparansi dan kejelasan penanganan kasus yang sebelumnya viral di media sosial.

Kasus ini sendiri bermula dari bocornya percakapan grup WhatsApp yang berisi dugaan pelecehan verbal, objektifikasi perempuan, hingga candaan bernada seksual yang dilakukan sejumlah mahasiswa FH UI.

- Advertisement -

Screenshoot percakapan itu cepat menyebar di platform X dan memicu kemarahan publik.

Suasana Tegang

Sidang dimulai dengan suasana yang sudah tidak kondusif.

Pihak fakultas, perwakilan dekanat, serta sejumlah pejabat kampus hadir untuk memimpin jalannya forum.

Namun di luar ruangan, massa mahasiswa terus memadati area, menuntut agar seluruh terduga pelaku dihadirkan.

Ketegangan mulai terasa ketika forum dibuka untuk penyampaian kronologi awal kasus.

Beberapa mahasiswa yang hadir dalam forum mulai melontarkan interupsi, meminta penjelasan lebih terbuka terkait identitas para terduga pelaku dan alasan sebagian dari mereka belum dihadirkan.

Situasi sempat memanas ketika isu bahwa beberapa pelaku “ditahan kehadirannya” oleh orang tua masing-masing mencuat.

Hal ini langsung memicu reaksi keras dari peserta sidang yang menilai proses tidak berjalan transparan.

Puncak kejadian terjadi sekitar tengah malam menuju dini hari.

Setelah melalui perdebatan panjang, pihak fakultas akhirnya memutuskan untuk menghadirkan seluruh 16 mahasiswa yang diduga terlibat dalam kasus percakapan grup WhatsApp tersebut.

Saat satu per satu nama dipanggil dan para mahasiswa memasuki ruang sidang, suasana langsung berubah drastis.

Massa yang sudah menunggu sejak sore langsung bereaksi keras. Teriakan, sorakan, hingga hujatan terdengar dari berbagai arah.

Beberapa mahasiswa bahkan berusaha mendekati barisan terduga pelaku untuk merekam wajah mereka.

Aparat keamanan kampus terlihat berusaha menjaga jarak antara kedua pihak agar situasi tidak semakin tidak terkendali.

Di tengah kericuhan itu, para terduga pelaku diminta berdiri di hadapan forum.

Mereka tidak diperkenankan menunduk dan diminta untuk menyimak seluruh proses persidangan secara terbuka.

Pernyataan Terduga Pelaku

Dalam sesi klarifikasi, salah satu terduga pelaku menyampaikan pernyataan yang justru memicu kemarahan baru.

Ia mengatakan bahwa ucapan yang ada di grup WhatsApp “hanya bertujuan untuk diskusi”.

Pernyataan tersebut langsung disambut reaksi keras dari peserta sidang.

Banyak yang menilai alasan itu tidak dapat dibenarkan, terlebih isi percakapan yang beredar dinilai mengandung unsur pelecehan verbal.

Seorang peserta sidang bahkan terdengar meneriakkan protes keras yang kemudian diamini oleh massa lainnya.

Suasana kembali tidak terkendali selama beberapa menit sebelum akhirnya ditenangkan oleh moderator forum.

Sepanjang jalannya sidang, tekanan dari massa mahasiswa terus meningkat.

Mereka menuntut agar seluruh proses dilakukan secara terbuka dan tidak ada perlakuan khusus terhadap siapapun yang terlibat.

Sorotan utama mengarah pada dugaan adanya upaya perlindungan terhadap beberapa terduga pelaku di awal proses.

Hal ini membuat mahasiswa yang hadir semakin mendesak pihak kampus untuk bersikap tegas.

Bahkan beberapa orasi spontan terdengar menuntut agar kasus ini tidak hanya berhenti pada klarifikasi internal, tetapi juga ditindaklanjuti hingga ke sanksi akademik paling berat jika terbukti bersalah.

Di tengah suasana panas, para terduga pelaku juga diberi kesempatan menyampaikan klarifikasi.

Namun sebagian besar dari mereka terlihat dalam tekanan, dengan suasana ruang sidang yang terus dipenuhi sorakan dari luar.

Beberapa mencoba menjelaskan posisi mereka dalam grup WhatsApp, sementara yang lain memilih diam.

Situasi ini membuat forum berjalan tidak seimbang antara proses klarifikasi dan tekanan publik yang sangat besar.

Kasus Masih Berlanjut

Setelah berlangsung berjam-jam hingga dini hari, sidang akhirnya ditutup dengan kesimpulan sementara bahwa seluruh hasil akan dibawa ke tahap investigasi lanjutan oleh Satgas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual (PPKS) Kampus

Pihak fakultas menegaskan bahwa proses penentuan sanksi akan dilakukan berdasarkan hasil pemeriksaan menyeluruh, termasuk kemungkinan sanksi berat jika terbukti ada pelanggaran etik maupun hukum.

Meski sidang telah selesai, tekanan publik belum mereda. Kasus ini masih menjadi perhatian luas dan terus diperbincangkan di media sosial, dengan banyak pihak menunggu langkah tegas dari kampus dalam menuntaskan dugaan pelecehan seksual yang mengguncang lingkungan akademik tersebut.

Cloud Startup - Bikin Website Kamu Makin Ngebut
Ikuti kami di Google News lalu klik ikon bintang. Atau kamu juga bisa follow WhatsaApp Holopis.com Channel untuk dapat update 10 berita pilihan redaksi dan breaking news.
Gesha Yuliani Nattasya
Ronald Steven
Gesha Yuliani Nattasya, Ronald Steven
Tim Redaksi :

Berita Lainnya

DKI JAKARTA
☀️
00:00:00
Memuat Kalender...
MEMUAT... - ---- H
MEMUAT... 00:00
-- : -- : --

YANG BARU