HOLOPIS.COM, JAKARTA – Jagat maya geger usai dugaan kursi FK UI bisa dibeli mencuat. Tarif masuk disebut tembus Rp600 juta lewat jalur belakang.
Dugaan praktik “jalur belakang” untuk masuk Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FK UI) tengah menjadi sorotan publik.
Isu ini viral di media sosial setelah beredar tangkapan layar percakapan yang diduga memperlihatkan upaya meloloskan calon mahasiswa ke sejumlah kampus kedokteran ternama.
Kasus ini memantik kemarahan warganet karena menyangkut integritas dunia pendidikan tinggi, khususnya fakultas kedokteran yang selama ini dikenal memiliki persaingan sangat ketat.
Unggahan tersebut pertama kali ramai setelah akun X @tubagusdaffa4 membagikan tangkapan layar chat pada 27 Mei 2026.

Dalam unggahan itu disebut adanya sosok yang diduga rektor mencoba membantu calon mahasiswa masuk FK UI melalui jalur khusus.
“Kira-kira kalau terang-terangan kayak gini masuk FK UI jalur belakang, bisa diproses nggak ya. Nyebut nama rektor juga,” tulis akun tersebut.
Tak butuh waktu lama, unggahan itu langsung menyedot perhatian publik dan telah ditonton ratusan ribu kali.
Banyak netizen mempertanyakan apakah praktik semacam itu memang benar terjadi di balik proses penerimaan mahasiswa baru.
Dalam tangkapan layar yang beredar, terlihat pesan bernada formal yang diduga dikirim oleh seorang pejabat kampus.
“Assalamualaikum wr wb, pak bos semoga sehat selalu. Mengingat untuk pendaftaran FK … tak tahu belum bisa dimasuk … setelah itu kita merapat ke … minta atensi. Salam sehat selalu Dr Ali,” bunyi pesan tersebut.
Selain itu, terdapat pula pengakuan dari sosok yang diduga calon mahasiswa.
Ia menyebut ada upaya untuk membantunya masuk ke beberapa universitas dengan fakultas kedokteran.
“Goks ini rektor 1, dr Ali bisa tembusin gue 5 univ kedokteran double banget,” tulisnya dalam percakapan yang ikut viral di media sosial.
Meski belum ada verifikasi resmi terkait keaslian tangkapan layar tersebut, isu ini sudah terlanjur menyebar luas dan memicu polemik besar.
Yang membuat publik makin geger adalah munculnya pengakuan netizen lain yang menyebut adanya “price list” atau daftar tarif untuk masuk jurusan tertentu melalui jalur belakang.
Salah satu akun mengklaim pernah melihat dokumen berisi pembagian tarif berdasarkan tingkat favorit jurusan.
“Tier 1 itu Rp600 juta untuk FK, FH, dan FKG. Tier dua Rp400 juta, tier tiga Rp200 jutaan,” tulis akun tersebut.
Pengakuan itu sontak membuat media sosial ramai.
Banyak warganet mengaku kecewa jika dugaan praktik jual beli kursi kuliah benar terjadi, apalagi di fakultas kedokteran yang berkaitan langsung dengan kualitas calon tenaga medis di masa depan.
Tak sedikit pula yang menilai praktik semacam ini dapat merusak kepercayaan masyarakat terhadap sistem seleksi masuk perguruan tinggi negeri.
Kasus ini kini menjadi perbincangan luas di berbagai platform media sosial.
Publik mendesak adanya investigasi menyeluruh agar dugaan praktik titipan dan jual beli kursi kuliah bisa dibongkar secara transparan.
Beberapa pengguna media sosial bahkan mengaku praktik jalur belakang sebenarnya bukan hal baru di dunia pendidikan tinggi.
Namun, baru kali ini isu tersebut ramai dibahas secara terbuka di ruang publik.
“Kalau benar ada praktik begini, kasihan siswa yang belajar mati-matian buat lolos UTBK,” tulis salah satu netizen.
Sementara itu, hingga kini belum ada pernyataan resmi dari pihak Universitas Indonesia terkait viralnya dugaan tersebut.
Nama sosok yang disebut dalam percakapan juga belum dapat dipastikan identitas maupun keterlibatannya.
Viralnya dugaan jalur belakang masuk FK UI kembali memunculkan kekhawatiran soal transparansi penerimaan mahasiswa baru di Indonesia.
Fakultas Kedokteran selama ini dikenal sebagai jurusan paling prestisius sekaligus paling sulit ditembus.
Persaingan ketat membuat banyak siswa harus belajar ekstra demi mendapatkan kursi kuliah secara resmi.
Karena itu, isu dugaan kursi kedokteran bisa dibeli hingga ratusan juta rupiah memicu kemarahan masyarakat.
Publik berharap aparat penegak hukum maupun pihak kampus dapat segera melakukan klarifikasi agar polemik ini tidak semakin liar dan menimbulkan spekulasi berkepanjangan.
Jika terbukti benar, praktik semacam ini dinilai bukan hanya mencederai dunia pendidikan, tetapi juga berpotensi merusak kualitas calon dokter di Indonesia.

