JAKARTA, HOLOPIS.COM – Gitaris grup band Letto, Agus Riyono alias Patub memberikan sentilan kepada Wakil Menteri Haji dan Umrah, Dahnil Anzar Simanjuntak. Pasalnya, ia menilai bahwa wacana War Ticket Haji yang dilemparkan oleh Kementerian Haji dan Umrah tidak bijak.
Di mana wacana tersebut dinilainya masih sangat mentah, sementara pemerintah memiliki infrastruktur yang sangat baik untuk menggodok wacana tersebut di ruang yang tepat.
Sementara ketika wacana mentah dilempar ke publik, yang ada adalah kegaduhan yang tidak perlu, sebab basis argumentasinya pun belum terlalu kokoh.
“Publik masih pusing sama MBG, Coretax, korupsi, cangkem pejabat mencla-mencle; kenapa kau tambahi?. Kalian punya infrastruktur untuk menggodok matang, tidak mentahan dilempar. Itu pointnya,” tulis Patub di akun X pribadinya @PatubMbel yang dikutip Holopis.com, Minggu (12/4/2026).
Statemen Patub ini untuk memberikan reaksi atas kritikan mantan Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin yang menyarankan agar pemerintah tidak semborono dalam menggelontorkan isu di ruang publik.
Apalagi isu soal perubahan kebijakan tata kelola pelaksanaan ibadah haji Indonesia akan diubah dari sistem antrean seperti yang saat ini berjalan, menjadi sistem pembelian tiket seperti pada konsep penjualan tiket konser, siapa cepat dia dapat.
“Rencana perbaikan haji dimatangkan tertutup saja di internal Pemerintah. Jangan melempar wacana yang masih mentah ke tengah publik,” kata Lukman.
Tokoh Nahdlatul Ulama (NU) ini pun mengingatkan bahwa melempar wacana mentah ke ruang publik seperti saat ini justru akan mengundang reaksi yang sangat kontra produktif di kalangan masyarakat luas.
“Itu bingungkan masyarakat dan kontra-produktif dalam upaya Pemerintah dapatkan kepercayaan (trust) publik,” sambungnya.
Pun demikian, Dahnil selaku Wamenhaj memberikan argumentasi bahwa isu tersebut dilempar hanya untuk memberikan ruang dialog terbuka bagi masyarakat untuk wacana yang tengah dipikirkan oleh kementerian yang ia pimpin.
Basis argumentasinya adalah, pemerintah Indonesia ingin mengubah sistem agar pelaksanaan haji tidak menjadi pasar tertutup, hanya sejumlah kalangan dan para elite saja yang tahu bagaimana tata kelola internalnya.
“Kami ingin Haji tidak jadi pasar tertutup seperti selama ini, sehingga muncul oligopoli oleh beberapa kelompok. Kami ingin haji informasinya simetris tidak seperti selama ini. Semua terlibat. Semua tahu. Bagaimana kondisi keuangan haji? Bagaimana kondisi antrean dll,” tulis Dahnil merespons Lukman.
“Kami buka semuanya Pak Menteri LHS. Karena kita ingin ada perubahan besar-besaran untuk kepentingan jamaah dan umat,” sambungnya.

