HOLOPIS.COM, JAKARTA – Pemerintah mulai bergerak cepat menghadapi ancaman musim kemarau panjang 2026 yang berpotensi mengganggu produksi pangan nasional. Fokus utama diarahkan ke Jawa Barat sebagai salah satu lumbung padi terbesar di Indonesia.
Langkah ini dilakukan oleh Kementerian Pertanian RI bersama pemerintah daerah untuk memastikan produksi tetap stabil meski tekanan iklim meningkat.
Peringatan datang dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) yang memprediksi musim kemarau tahun ini akan lebih panjang dan kering, terutama di wilayah barat dan selatan Indonesia.
Dengan kemarau panjang, kondisi ini berpotensi mengurangi ketersediaan air, menekan produktivitas pertanian, mengganggu pasokan pangan.
Dengan luas lahan sawah mencapai sekitar 900 ribu hektare, Jawa Barat memegang peran strategis dalam menjaga produksi beras nasional. Maka itu, pemerintah menjadikan provinsi ini sebagai prioritas utama dalam mitigasi dampak kemarau.
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menjelaskan penguatan sistem air menjadi kunci utama menghadapi kemarau.
“Upaya ini difokuskan pada penguatan ketersediaan air dan dukungan benih guna menjaga produksi padi tetap optimal serta memastikan pasokan pangan tetap aman,” kata Amran, dalam keterangannya, Minggu, (29/3/2026).
Adapun langkah konkret yang dilakukan Kementan meliputi perbaikan dan penguatan jaringan irigasi. Selain itu, optimalisasi pompanisasi bantuan pompa air ke petani. Lalu, pemanfaatan lahan non-rawa.
Kemudian, pemerintah juga menyalurkan bantuan benih unggul untuk memastikan produktivitas tetap terjaga.
Langkah ini jadi bagian dari strategi terpadu agar petani tetap bisa menanam dan panen optimal meski kondisi cuaca tidak ideal.
Amran menyampaikan pentingnya sinergi semua upaya agar sektor pertanian tetap bertahan.
“Air adalah faktor kunci. Karena itu, penguatan irigasi, pompanisasi, dan dukungan benih harus berjalan bersamaan agar petani tetap bisa berproduksi secara optimal,” ujarnya.
Melalui langkah terkoordinasi antara pemerintah pusat dan daerah, diharapkan ketersediaan air tetap terjaga. Dengan demikian, produksi padi tak turun bahkan produktivitas bisa meningkat

