Konflik Timur Tengah Bikin Inflasi Global Mendidih, OECD Wanti-wanti Jalur Pertumbuhan Ekonomi Terganggu

0 Shares

HOLOPIS.COM, JAKARTA – Ketegangan yang terus meningkat di kawasan Timur Tengah mulai menimbulkan efek domino bagi perekonomian global. Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) memperingatkan bahwa konflik yang belum menunjukkan tanda mereda berpotensi mengganggu momentum pemulihan ekonomi dunia.

Dalam laporan terbarunya, OECD menyoroti risiko utama berasal dari terganggunya distribusi energi global, khususnya melalui Selat Hormuz, jalur vital yang menjadi nadi pengiriman minyak dunia. Jika aliran energi tersendat, lonjakan harga menjadi konsekuensi yang sulit dihindari, dan ini akan langsung memicu tekanan inflasi di berbagai negara.

OECD memproyeksikan inflasi di negara-negara G20 akan meningkat signifikan. Dengan asumsi harga energi terus melonjak, inflasi diperkirakan mencapai 4 persen pada 2026, naik sekitar 1,2 poin persentase dari proyeksi sebelumnya. Meski demikian, tekanan ini diprediksi mulai mereda pada 2027 dengan angka inflasi turun ke 2,7 persen.

Tak hanya inflasi, laju pertumbuhan ekonomi global juga diperkirakan melambat. Produk Domestik Bruto (PDB) dunia diproyeksikan turun dari 3,3 persen pada tahun lalu menjadi 2,9 persen pada 2026, sebelum sedikit pulih ke level 3,0 persen pada 2027. Angka ini mencerminkan tekanan berlapis yang kini dihadapi ekonomi global—mulai dari ketidakpastian geopolitik hingga volatilitas harga energi.

“Kami menghadapi tingkat ketidakpastian yang tinggi terkait durasi dan besarnya konflik di Timur Tengah saat ini, sehingga prospek ini memiliki risiko penurunan yang signifikan yang dapat menyebabkan pertumbuhan lebih rendah dan inflasi lebih tinggi,” ujar kepala OECD, Mathias Cormann, seperti dilansir Holopis.com dari Reuters, Kamis (26/3/2026).

Menariknya, proyeksi pertumbuhan ekonomi untuk 2026 sejatinya tidak berubah dibandingkan estimasi Desember 2025. Namun, OECD mengungkap bahwa peluang kenaikan pertumbuhan global sekitar 0,3 poin persentase sebelumnya sempat terbuka, dengan catatan konflik tidak memburuk. Kini, harapan tersebut praktis menguap seiring eskalasi ketegangan yang terus berlanjut.

- Advertisement -

Situasi ini menempatkan ekonomi global dalam posisi rawan: di satu sisi masih berupaya bangkit, di sisi lain dibayangi risiko geopolitik yang bisa sewaktu-waktu memperburuk keadaan. Jika konflik terus memanas, bukan tidak mungkin skenario perlambatan ekonomi yang lebih dalam akan menjadi kenyataan.

Cloud Startup - Bikin Website Kamu Makin Ngebut
Ikuti kami di Google News lalu klik ikon bintang. Atau kamu juga bisa follow WhatsaApp Holopis.com Channel untuk dapat update 10 berita pilihan redaksi dan breaking news.
Khoirudin Ainun Najib
Khoirudin Ainun Najib
Tim Redaksi :

SELURUH ISI KONTEN BUKAN TANGGUNG JAWAB REDAKSI HOLOPIS.COM

Berita Lainnya

YANG BARU