Lebanon Bantah Tuduhan Israel, Sebut Serangan Ambulans Tewaskan Belasan Tenaga Medis

0 Shares

HOLOPIS.COM, JAKARTA – Kementerian Kesehatan Masyarakat Lebanon membantah klaim militer Israel yang menyebut ambulans digunakan untuk kepentingan militer. Pemerintah Lebanon menilai tuduhan tersebut sebagai upaya untuk membenarkan serangan terhadap fasilitas dan tenaga kesehatan.

“Tuduhan itu merupakan upaya untuk membenarkan kejahatan mereka terhadap kemanusiaan,” demikian disampaikan Kementerian Kesehatan Masyarakat Lebanon, dikutip Holopis.com, Sabtu (14/3).

Dalam pernyataan resminya, kementerian tersebut mengatakan bahwa pasukan Israel berulang kali menargetkan tim ambulans yang sedang menjalankan misi penyelamatan sejak serangan terhadap Lebanon meningkat.

Salah satu serangan dilaporkan terjadi pada Sabtu pagi di pusat layanan kesehatan primer di Desa Burj Qalaouiyeh, Lebanon selatan. Fasilitas tersebut disebut sebagai pusat medis sipil yang beroperasi di bawah pengawasan Kementerian Kesehatan Lebanon.

Serangan tersebut dilaporkan menewaskan 12 tenaga kesehatan, termasuk dokter, perawat, dan petugas penyelamat. Selain itu, satu tenaga kesehatan mengalami luka serius dan empat lainnya masih dinyatakan hilang.

Kementerian juga menyebut bahwa sejak 2 Maret, serangan Israel telah menewaskan sedikitnya 26 paramedis dan melukai 51 lainnya. Jumlah tersebut disebut sebagai bukti bahwa tim medis terus menjadi sasaran serangan.

- Advertisement -

Menurut kementerian, serangan tersebut bahkan untuk pertama kalinya turut menyasar tim Palang Merah Lebanon sejak konflik meningkat pada Oktober 2023.

Lebanon juga menilai klaim Israel yang menuduh ambulans digunakan untuk tujuan militer hanya bertujuan untuk membenarkan pelanggaran terhadap hukum humaniter internasional serta Konvensi Jenewa yang melindungi personel dan fasilitas medis.

Sebelumnya pada hari yang sama, seorang juru bicara militer Israel melalui platform media sosial X menyatakan bahwa kelompok Hizbullah disebut secara luas menggunakan ambulans untuk kepentingan militer. Ia juga memperingatkan agar penggunaan fasilitas medis untuk aktivitas militer segera dihentikan.

Ketegangan antara Israel dan Hizbullah kembali meningkat setelah Hizbullah mengumumkan peluncuran roket dari Lebanon menuju Israel pada 2 Maret. Serangan tersebut merupakan yang pertama sejak gencatan senjata berlaku pada 27 November 2024.

Sebagai respons, militer Israel melancarkan kampanye militer yang mereka sebut sebagai operasi ofensif terhadap Hizbullah. Operasi tersebut mencakup serangan udara intensif di berbagai wilayah Lebanon selatan dan timur, serta kawasan pinggiran selatan Beirut.

Cloud Startup - Bikin Website Kamu Makin Ngebut
Ikuti kami di Google News lalu klik ikon bintang. Atau kamu juga bisa follow WhatsaApp Holopis.com Channel untuk dapat update 10 berita pilihan redaksi dan breaking news.
Darin Brenda Iskarina
Darin Brenda Iskarina
Tim Redaksi :

Berita Lainnya

DKI JAKARTA
☀️
00:00:00
Memuat Kalender...
MEMUAT... - ---- H
MEMUAT... 00:00
-- : -- : --

YANG BARU