HOLOPIS.COM, JAKARTA – Memasuki awal pekan yang sekaligus awal bulan, pasar modal Indonesia kembali memasuki fase yang tricky, di mana Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diproyeksikan bergerak sideways namun tetap menyimpan peluang penguatan.
Pada perdagangan Jumat (28/11/2025) pekan lalu, IHSG ditutup melemah 0,43 persen ke level 8.508,71, setelah sempat menyentuh rekor tertinggi baru di awal pekan. Sektor teknologi pun menjadi beban utama, sementara sektor energi tampil sebagai penopang penguatan.
Sentimen Awal Desember
Analis Phintraco Sekuritas menyebut pekan ini bakal menjadi momen padat rilis data ekonomi, baik dari dalam maupun luar negeri. Investor disebut akan fokus pada sederet indikator makro yang keluar sepanjang 1–5 Desember 2025.
“Investor akan mencermati data ekonomi pada pekan depan, yaitu indeks PMI manufacturing, neraca perdagangan dan inflasi pada (1/12), serta cadangan devisa pada (5/12),” katanya dalam riset mingguan, dikutip Holopis.com, Senin (1/12/2025).
Neraca perdagangan Oktober diperkirakan surplus USD3,8 miliar, turun dari USD4,34 miliar pada September. Sementara itu, inflasi November diproyeksikan berada pada 0,3 persen month-to-month dan 2,8 persen year-on-year, sedikit melandai dibandingkan bulan sebelumnya.
Secara teknikal, analis Phintraco menyebut momentum penguatan IHSG mulai melemah. Histogram MACD disebut menunjukkan kemiringan positif yang mereda, sementara Stochastic RSI bergerak turun sehingga memunculkan potensi koreksi jangka pendek.
Meski begitu, tren jangka menengah masih terjaga karena IHSG tetap bertahan di atas MA20. “Namun secara jangka menengah dan jangka panjang, IHSG masih di area bullish,” jelasnya.
Analis Phintraco pun memproyeksikan level resistance pada 8.600, pivot 8.500, dan support di 8.450.
Sementara dari sisi teknikal lainnya, analis MNC Sekuritas melihat IHSG masih memiliki peluang untuk gaspol di awal pekan, Senin (1/12/2025). Meski IHSG terkoreksi 0,42 persen pada penutupan Jumat, ruang untuk rebound masih lebar.
“Kami perkirakan, IHSG masih berada pada bagian dari wave (iii) dari wave [iii], dapat dicermati area penguatan berikutnya pada area 8.660. Namun, cermati pula area koreksi pada rentang 8.460–8.491 sekaligus menguji area support,” tulis analis MNC Sekuritas.
MNC Sekuritas memperkirakan support berada di 8.491 dan 8.428, dengan resistance di 8.616 dan 8.660.
Rekomendasi Saham
Dari sejumlah sentimen tersebut, kedua analis dari perusahaan efek memberikan rekomendasi sejumlah saham yang dapat diperhatikan pada perdagangan awal pekan, sekaligus awal bulan Desember 2025 ini.
Analis Phintraco sendiri merekomendasikan saham PWON, INKP, PGAS, NCKL, PSAB, dan ERAA. Sementara analis MNC Sekuritas memberikan empat saham, yang disertai dengan strategi trading di setiap sahamnya.
1. ASII – Buy on Weakness
Harga: Rp6.550, terkoreksi 0,38 persen
Buy on Weakness: Rp6.375–Rp6.525
Target: Rp6.725, Rp6.900
Stoploss: < Rp6.275
2. BBRI – Spec Buy
Harga: Rp3.680, turun 1,60 persen
Spec Buy: Rp3.650–Rp3.680
Target: Rp3.740, Rp3.790
Stoploss: < Rp3.630
3. PTRO – Buy on Weakness
Harga: Rp10.000, naik 0,50 persen
Buy on Weakness: Rp9.800–Rp9.950
Target: Rp10.275, Rp10.825
Stoploss: < Rp9.650
4. TPIA – Buy on Weakness
Harga: Rp7.400, naik 0,34 persen
Buy on Weakness: Rp7.225–Rp7.350
Target: Rp7.725, Rp8.275
Stoploss: < Rp7.025
Disclaimer: Artikel ini disusun berdasarkan pandangan analis. Informasi ini bukan ajakan, rekomendasi, atau saran investasi. Keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca.


