HOLOPIS.COM, JAKARTA – Menteri Perdagangan (Mendag) RI Budi Santoso (Busan) menegaskan bahwa Kementerian Perdagangan terus memperkuat tiga program strategis untuk menjaga ketahanan perdagangan nasional dan meningkatkan kontribusi ekspor terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia.
Ketiga program prioritas, yaitu Pengamanan Pasar Dalam Negeri; Perluasan Pasar Ekspor; serta Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah Berani Inovasi Siap Adaptasi Ekspor (UMKM BISA Ekspor) menjadi fokus utama kinerja Kemendag pada 2025.
Penegasan ini disampaikan Mendag Busan dalam acara CEO Insight pada Selasa, (4/11) di Jakarta. Kegiatan ini merupakan rangkaian menuju 16th Kompas 100 CEO Forum dengan tema “Menyatukan Arah Indonesia Maju: Energi, Investasi, Talenta, dan Keberlanjutan”.
“Ketidakpastian global tidak boleh membuat kita berhenti. Justru saat ini adalah momentum untuk memperkuat fondasi perdagangan nasional melalui sinergi program yang nyata di lapangan dengan berbagai pemangku kepentingan,” ujar Mendag Busan, sebagaimana rilis yang diterima Holopis.com.
Mendag Busan menyebut, ketiga program prioritas Kemendag berorientasi pada satu tujuan yang sama, yaitu memperkuat peran Indonesia dalam pasar global, sekaligus memastikan pasar domestik tetap menjadi ruang tumbuh bagi pelaku usaha nasional. Dalam menjaga pasar dalam negeri, Kemendag memanfaatkan berbagai instrumen seperti trade remedies, antidumping, dan safeguard measures untuk melindungi industri nasional dari praktik perdagangan yang tidak adil.
Terkait perluasan pasar ekspor, Mendag Busan memaparkan, pembukaan akses pasar luar negeri menjadi prioritas agar pelaku usaha Indonesia tidak hanya bergantung pada mitra dagang tradisional. Sejumlah perjanjian perdagangan internasional berhasil dituntaskan dan siap diimplementasikan.
Tahun ini dua perjanjian kemitraan ekonomi komprehensif (CEPA), yaitu Indonesia-Kanada dan Indonesia-Peru telah ditandatangani dan selanjutnya menunggu proses ratifikasi. Sementara itu, perundingan dengan Uni Eropa (EU–CEPA) dan Tunisia telah mencapai tahap akhir dan segera ditandatangani. Selain itu, perjanjian dengan blok ekonomi Eurasia dijadwalkan akan diteken pada Desember mendatang di Rusia. Langkah ini menjadi bukti konkret komitmen Indonesia dalam memperluas pasar ekspor dan memperkuat posisi di kancah perdagangan internasional.
Menurut Mendag Busan, setelah seluruh perjanjian tersebut ditandatangani, tantangan berikutnya adalah bagaimana pelaku usaha nasional dapat memanfaatkan peluang yang terbuka. Pemerintah telah membuka pintu akses pasar melalui berbagai kesepakatan dagang, namun pemanfaatannya bergantung pada kesiapan industri dan eksportir dalam negeri.
“Sekarang tugas kita bersama adalah memastikan seluruh perjanjian ini benar-benar dimanfaatkan secara optimal. Jangan sampai pintu pasar sudah terbuka, tetapi kita tidak masuk,” tegas Mendag Busan.
Mendag Busan juga menambahkan, Kemendag secara konsisten mendorong pemerataan manfaat ekspor melalui program UMKM BISA Ekspor. Dalam program ini, Kemendag memanfaatkan jaringan perdagangan luar negeri yang tersebar di 33 negara melalui 46 kantor perwakilan perdagangan di luar negeri.
Melalui jaringan tersebut, Kemendag memfasilitasi penjajakan kerja sama bisnis (business matching) antara pelaku UMKM dengan pembeli luar negeri. Proses kurasi dilakukan oleh lembaga pembina, seperti perbankan, agregator, maupun asosiasi, sementara pemerintah berperan mencarikan pasar dan mempertemukan pelaku usaha dengan calon mitra di negara tujuan. Program ini memfasilitasi pelaku usaha kecil agar dapat menembus pasar internasional. Hingga saat ini, lebih dari 1.000 UMKM telah mengikuti program ini dan berhasil menjalin potensi transaksi ekspor senilai Rp1,7 triliun.


