JAKARTA – Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu merasa pede setelah mendapatkan dukungan dari Amerika Serikat untuk mengambil alih Gaza, Palestina. Kantor Benjamin Netanyahu mengatakan bahwa ia telah berbicara melalui telepon dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump, dan membahas rencana untuk mengambil alih Gaza.
“Keduanya membahas rencana Israel untuk mengambil alih benteng pertahanan Hamas yang tersisa di Gaza guna mengakhiri perang dengan membebaskan para sandera dan mengalahkan Hamas,” demikian disampaikan kantor Benjamin Netanyahu, dikutip Holopis.com, Senin (11/8).
Netanyahu juga berterima kasih kepada Donald Trump atas dukungan Amerika Serikat terhadap Israel yang tak juga putus sejak awal perang.
Kemudian, Benjamin Netanyahu mengatakan warga sipil akan diperbolehkan untuk meninggalkan zona pertempuran melalui koridor yang telah ditentukan sebelum operasi dimulai, tanpa menyebutkan tanggal pelaksanaannya.
Sebagai informasi Sobat Holopis, sedikitnya lima orang tewas akibat kelaparan dan malanutrisi, menurut otoritas kesehatan di Gaza. Jumlah korban tewas di Gaza akibat operasi militer Israel sejak perang dimulai telah bertambah menjadi setidaknya 61.430 orang.
Penderitaan Warga Gaza yang Hanya Bisa Pasrah
Masyarakat Gaza hanya bisa menangis pilu pasca mendengar kabar bahwa Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu berencana untuk mengambil alih Gaza dan akan mengintensifkan blokade sejak perang pada 2023. Seorang warga yang hanya bisa mengungsi bernama Mohammed Abed (45) mengatakan bahwa mereka sangat terkejut mendengar kabar itu, apalagi dalam kondisi sedang kelaparan.
“Di saat kami kelaparan, kami terkejut mendengar Israel ingin menduduki Jalur Gaza. Kami adalah dua juta orang yang tinggal di daerah kantong pesisir ini, kelaparan dan sudah berada di bawah penduduka,” kata Abed.
Kemudian warga lainnya bernama Saeed al-Nims (46) sudah tidak tahu lagi harus menyelamatkan diri ke mana. Sebelum Israel pamer rencana untuk mengambil alih Gaza, wilayah tersebut memang sudah hancur dengan situasi kemanusiaan yang memburuk.
“Gaza hancur, dan jika mereka mendudukinya, ke mana orang-orang akan pergi? Daerah ini sempit, dan orang-orang sudah berdesakan,” jelasnya.


