Petani tadah hujan dinilai perlu lebih berhati-hati karena ketersediaan air untuk tanaman sangat bergantung pada curah hujan. Kondisinya berbeda dengan lahan yang memiliki irigasi teknis atau sumber air lain yang lebih terjamin.
“Kalau ada irigasi teknis, ada air, mungkin sudah bisa melakukan. Tapi yang kami sampaikan ini adalah petani-petani yang menggunakan air dengan tadah hujan,” jelasnya.
Karena itu, waktu penyemaian hingga penanaman perlu disesuaikan dengan informasi awal musim hujan di masing-masing wilayah. Langkah tersebut penting agar tanaman tidak mengalami kekurangan air apabila hujan yang turun ternyata belum menunjukkan masuknya musim hujan secara konsisten.
Meski awal musim hujan diperkirakan terlambat, Goeroeh menegaskan kondisi tersebut bukan berarti musim hujan akan berlangsung lebih panjang.
Secara umum, musim hujan 2026/2027 diperkirakan memiliki sifat normal, meskipun waktu kedatangannya mengalami keterlambatan di sejumlah wilayah.
Puncak musim hujan juga diprediksi berbeda antarwilayah. Sejumlah daerah diperkirakan mencapai puncak curah hujan pada Januari, sedangkan wilayah lainnya baru mengalami puncak pada Februari hingga Maret.
Perbedaan tersebut perlu menjadi perhatian karena peningkatan curah hujan pada periode puncak dapat meningkatkan potensi bencana hidrometeorologi, seperti banjir dan tanah longsor.
BMKG pun meminta masyarakat tidak menggunakan satu patokan untuk seluruh wilayah Jawa Tengah. Informasi mengenai awal musim hujan perlu dilihat berdasarkan kondisi masing-masing daerah.
“Karena itu, masyarakat, termasuk petani, diminta mengikuti informasi cuaca dan iklim terbaru dari BMKG sebelum menentukan aktivitas yang berkaitan dengan kondisi musim. Khusus petani tadah hujan, informasi awal musim hujan menjadi penting untuk menentukan waktu penyemaian dan penanaman, agar tidak terjebak hujan yang hanya bersifat sementara,” pungkasnya.




💬 Diskusi Pembaca
0 KomentarMasuk dengan akun Google Anda untuk bergabung dalam diskusi:
Memuat diskusi...