Musim Hujan di Jateng Mundur Sebulan, Petani Diminta Waspadai ‘Hujan Salah Mangsa’

0 Shares
Ukuran Teks:
21
Dengarkan:

HOLOPIS.COM, SEMARANG – Musim hujan di Jawa Tengah diprediksi datang lebih lambat tahun ini. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkirakan awal musim hujan di sejumlah wilayah Jateng bisa mundur hingga tiga dasarian atau sekitar satu bulan.

Kepala Stasiun Klimatologi Jawa Tengah, Goeroeh Tjiptanto, mengatakan Jateng hingga saat ini masih berada dalam periode musim kemarau. Kondisi tersebut berbeda dibandingkan sejumlah tahun sebelumnya karena turut dipengaruhi dinamika iklim global, salah satunya fenomena El Nino.

“Karena kemarau tahun 2026 ini ada fenomena global yang mempengaruhi, salah satunya adalah El Nino,” kata Goeroeh dalam keterangan tertulis, dikutip Holopis.com Jateng, Kamis (1/10/2026).

Pengaruh El Nino disebut masih terasa hingga awal 2026. Fenomena tersebut sebelumnya sempat berada pada intensitas kuat hingga sedang, kemudian melemah, tetapi tetap menjadi salah satu faktor yang memengaruhi kondisi iklim sepanjang tahun ini.

Goeroeh menjelaskan, awal musim hujan di Jawa Tengah tidak akan terjadi secara serentak. Sejumlah wilayah diperkirakan mulai memasuki musim hujan pada awal November, sementara daerah lainnya baru mengalaminya pada akhir November, awal Desember, hingga pertengahan Desember.

Wilayah Banjarnegara dan Wonosobo termasuk daerah yang diperkirakan lebih dahulu memasuki musim hujan, yakni sekitar awal November.

Sementara itu, sejumlah wilayah seperti Rembang, Pati bagian utara, dan Jepara diperkirakan mengalami awal musim hujan lebih lambat. Bahkan, Wonogiri bagian selatan diprediksi baru memasuki musim hujan sekitar pertengahan Desember.

“Jadi meskipun Jawa Tengah itu satu wilayah, ada variasi datangnya awal musim hujan yang berbeda-beda,” ujarnya.

Perbedaan tersebut membuat masyarakat, khususnya petani, tidak bisa menjadikan satu kali hujan sebagai tanda bahwa musim hujan telah benar-benar tiba.

Pada masa peralihan dari kemarau menuju musim hujan, hujan masih berpotensi turun secara sporadis. Pola hujan baru dapat disebut memasuki musim hujan ketika curah hujan mulai berlangsung secara lebih konsisten.

Kondisi tersebut menjadi perhatian bagi petani, terutama mereka yang mengandalkan sawah tadah hujan. BMKG mengingatkan petani agar tidak terburu-buru melakukan penanaman hanya karena turun hujan setelah periode kemarau panjang.

Hujan yang turun pada masa peralihan tersebut berpotensi hanya bersifat sementara atau yang dikenal masyarakat sebagai hujan salah mangsa.

“Di dalam bahasa publik itu ada hujan tipuan, atau dalam bahasa Jawa hujan salah mangsa,” ungkapnya.

- Advertisement -
Google News

Jadikan Holopis.com sebagai sumber utama pilihanmu di Google untuk mendapatkan berita terbaru dan informasi aktual.

Tambahkan Sekarang
Khoirudin Ainun Najib
Tim Penulis & Editor
Khoirudin Ainun Najib
0 Shares

💬 Diskusi Pembaca

0 Komentar

Masuk dengan akun Google Anda untuk bergabung dalam diskusi:

Memuat diskusi...

Cloud Startup - Bikin Website Kamu Makin Ngebut
Holopis UMKMIklan: Holopis UMKM
DKI JAKARTA
☀️ 🌙
00:00:00
Memuat Tanggal...
MEMUAT
-
---- H
MEMUAT 00:00
-- : -- : --
Waktu Dhuha --:-- — --:--
YANG BARU