HOLOPIS.COM, JAKARTA – Pengamat isu terorisme Islah Bahrawi ikut menyoroti pernyataan Ulta Levenia Nababan yang viral setelah mengaitkan fenomena gunung meletus secara serentak di Indonesia dengan dugaan rekayasa frekuensi auroral berdaya tinggi oleh pihak asing.
Islah menyampaikan sindiran keras terhadap pernyataan tersebut. Ia menilai klaim yang menghubungkan aktivitas gunung berapi dengan rekayasa frekuensi dari pihak asing terdengar seperti teori yang dibangun berdasarkan hubungan yang tidak memiliki dasar kuat.
Melalui unggahannya, Islah bahkan membandingkan logika tersebut dengan teori yang menyebut pembangunan Candi Borobudur berkaitan dengan Nabi Sulaiman hanya karena terdapat wilayah bernama Sleman di sekitarnya.
“Ngakak abis,” tulis Islah mengawali komentarnya di akun Threads, Selasa (8/9/2026).
Ia kemudian menyindir narasi mengenai gunung meletus yang dikaitkan dengan rekayasa frekuensi auroral berdaya tinggi oleh pihak asing.
“Gunung meletus serentak di Indonesia dituding karena rekayasa frekwensi auroral berdaya tinggi oleh pihak asing,” tulisnya.
Islah menilai pola penalaran tersebut serupa dengan teori yang menghubungkan Borobudur dengan Nabi Sulaiman hanya berdasarkan kemiripan nama geografis.
“Ini sama kayak teori yg ngebangun Borobudur adalah Nabi Sulaiman. Karena ada kota Sleman di dekatnya. Haha,” lanjut Islah.
Pernyataan Islah tersebut kemudian menjadi bagian dari perbincangan publik terkait kontroversi yang menyeret nama Ulta Levenia Nababan.
Pernyataan Ulta yang Viral
Sebelumnya, Ulta Levenia Nababan menjadi sorotan setelah pernyataannya mengenai aktivitas gunung berapi di Indonesia beredar luas di media sosial.
Dalam pernyataan yang dipersoalkan publik, Ulta mengaitkan sejumlah aktivitas gunung berapi yang disebut terjadi secara bersamaan dengan kemungkinan adanya rekayasa frekuensi auroral berdaya tinggi oleh pihak asing.
Pernyataan tersebut kemudian menuai beragam respons. Sebagian publik mempertanyakan dasar ilmiah dari hubungan antara aktivitas vulkanik dengan dugaan penggunaan frekuensi auroral oleh pihak asing.
Polemik semakin berkembang karena isu tersebut menyangkut fenomena alam dan dugaan keterlibatan pihak asing, sehingga memunculkan perdebatan mengenai pentingnya dasar ilmiah dan bukti yang kuat sebelum sebuah dugaan disampaikan kepada publik.
Kritik Islah Bahrawi pun menambah panjang respons terhadap pernyataan Ulta yang belakangan viral tersebut.





💬 Diskusi Pembaca
0 KomentarMasuk dengan akun Google Anda untuk bergabung dalam diskusi:
Memuat diskusi...