Mereka juga sempat melempar telur ke arah kantor kabupaten setelah tidak ada pejabat yang menemui massa.
Ketua Asosiasi Unggas Peternak Seluruh Kabupaten Pati, Dwi Agus Siswanto, mengatakan aksi tersebut menggambarkan kondisi peternak yang sudah sangat tertekan.
“Daripada dijual mending dimakan sendiri,” kata Agus.
Di Yogyakarta, peternak dari Sleman, Bantul, Kulonprogo dan Gunungkidul membawa ayam ke kawasan Malioboro, sebanyak 1.200 ayam dibagikan gratis kepada masyarakat.
Koordinator aksi, Andry Patra, menyebut pembagian tersebut merupakan simbol keresahan peternak.
“Ini bentuk simbolis. Kami membagikan ayam supaya masyarakat tahu bahwa peternak hari ini sedang mengeluh, sedang sedih, mengalami kerugian cukup besar,” ujarnya.
Aksi tersebut sekaligus menjadi cara peternak menunjukkan bahwa masalah mereka bukan sekadar soal harga di pasar.
Ada biaya pakan, biaya operasional, tenaga, hingga risiko usaha yang harus ditanggung setiap hari.
Di tengah harga yang ambles, peternak juga mempertanyakan struktur industri perunggasan nasional.
Muncul dugaan adanya ketimpangan dalam rantai pasok yang membuat peternak mandiri berada di posisi lemah.
Mulai dari bibit ayam, pakan, hingga akses pasar menjadi persoalan yang disorot.
Namun, dugaan mengenai praktik oligopoli oleh perusahaan besar tersebut masih membutuhkan pembuktian dan klarifikasi dari pihak terkait.
Pemerintah daerah mulai merespons aksi tersebut, dimulai dari Bupati Kendal Dyah Kartika Permanasari menemui para peternak dan berjanji membawa aspirasi mereka ke pemerintah pusat.



