JAKARTA, HOLOPIS.COM – Film terbaru berjudul ‘Seni Merayu Tuhan’ tidak hanya mengadaptasi buku laris karya Habib Jafar, tetapi juga melibatkan sang pendakwah secara langsung dalam proses kreatifnya. Bersama tim Wahana Kreator, Habib Jafar ikut memberikan supervisi pada pengembangan skenario agar cerita yang dihadirkan mampu merepresentasikan kegelisahan anak muda masa kini secara jujur.
Habib Jafar mengatakan, sejak awal ia meminta agar tokoh utama dalam film tidak digambarkan sebagai seorang sosok yang sempurna atau sudah religious sejak awal. Menurutnya, karakter yang tengah berjuang menghadapi persoalan hidup justru lebih dekat dengan realitas yang dialami banyak generasi muda saat ini.
“Pesan saya ketika mengembangkan ide film ini adalah ‘tolong jangan bikin tokoh utamanya itu orang yang sudah suci sejak awal’ karena itu tidak relatable buat anak muda jaman sekarang. Anak muda jaman sekarang itu lagi capek. Capek di judge, capek dituntut macam-macam,” ujar Habib Jafar dalam keteranganya, Rabu (5/7/2026).
Menurut Habib Jafar, selama ini ia sering bertemu dengan anak muda yang merasa tersesat, baik karena persoalan kesehatan mental, tekanan hidup, maupun masalah keluarga. Pengalaman tersebut menjadi inspirasi utama dalam membangun karakter di film yang dijadwalkan tayang pada 13 Agustus 2026 tersebut dengan menghadirkan sosok pemuda penuh luka namun tetap memiliki kerinduan untuk kembali mendekat kepada tuhan.
“Tokoh utama di film ini adalah representasi anak-anak yang mungkin tatonya banyak, mungkin yang jarang ke masjid. Tapi dalam kamarnya, jam tiga pagi, dia menangis dan ngobrol sama Tuhan. Nah, obrolan jam tiga pagi itulah bentuk rayuan paling indah,” katanya.
Selain mengangkat perjalanan spiritual, film ini juga menawarkan pendekatan visual yang puitis dan reflektif. Berbagai adegan sederhana, seperti menikmati rintik hujan di angkringan saat berada di titik terendah kehidupan, digunakan sebagai simbol bahwa kedekatan dengan Tuhan dapat dibangun melalui momen-momen kecil yang tulus tanpa harus selalu bersifat formal atau transaksional.
Habib Jafar selanjutnya berharap film ‘Senin Merayu Tuhan’ menjadi ruang refleksi yang terbuka bagi siapapun yang merasa jauh dari agama. Ia ingin penonton menyadari bahwa tidak ada kata terlambat untuk kembali.
“Kalau selama ini kalian merasa jauh dari tuhan, merasa berdosa banget. Ingat Tuhan itu Maha Penerima Rayuan. Jangan takut kembali karena Tuhan selalu menunggu kalian pulang,” tuturnya.
Sebagai tambahan, Film ‘Seni Merayu Tuhan’ sendiri mengisahkan tentang seorang pemuda bernama Hikmah (Ari Irham) yang hidupnya terguncang setelah ibunya (Rieke Diah Pitaloka) meninggal dunia. Namun, Almarhumah sang ibu terus hadir dalam mimpi sehingga membuat Hikmah bertekad menjadi anak yang saleh. Kemudian ia mencoba menjadi jalan untuk merayu Tuhan demi kedamaian sang ibu, di tengah dunia yang penuh ketidakpastian.


