Program MBG tidak hanya bertujuan mengatasi stunting, tetapi juga berpotensi memperkuat rantai pasok pangan nasional melalui pemanfaatan hasil pertanian, hortikultura, peternakan, dan perikanan dari daerah.
Sudaryono menegaskan, ketepatan sasaran menjadi kunci keberhasilan program.
Karena itu, pemerintah mengintegrasikan data penerima manfaat berbasis Nomor Induk Kependudukan (NIK) sehingga kondisi gizi balita, anak sekolah, hingga ibu hamil dapat dipantau secara lebih akurat.
Melalui integrasi data tersebut, pemerintah dapat mengetahui apakah seorang anak telah menerima MBG, status stuntingnya, hingga perkembangan kondisi kesehatannya setelah memperoleh intervensi gizi.
Selain itu, BGN bersama Kementerian Kesehatan juga akan memperkuat pemantauan melalui program Cek Kesehatan Gratis (CKG).
Evaluasi kesehatan dilakukan secara berkala untuk memastikan Program Makan Bergizi Gratis tidak hanya menghasilkan penyaluran makanan, tetapi juga memberikan dampak nyata terhadap perbaikan status gizi masyarakat.
“Dengan begitu kita ingin memastikan output, outcome, hingga dampak program benar-benar terukur. Harapannya, anak yang sebelumnya stunting menjadi sehat, yang kekurangan gizi menjadi normal, sehingga kualitas generasi penerus bangsa semakin baik,” kata Sudaryono.
Dari perspektif pembangunan pertanian, keberhasilan MBG juga menjadi peluang meningkatkan permintaan terhadap pangan bergizi yang diproduksi petani dalam negeri.
Ketersediaan beras, sayuran, buah-buahan, telur, daging, susu, hingga komoditas pangan lokal menjadi faktor penting agar program berjalan berkelanjutan sekaligus memperkuat ketahanan pangan nasional.


