Selama proses pencalonan, Gibran membawa gagasan bertajuk “SEMMI Kolaboratif: Kolaborasi Berdampak, Berakar dari Daerah.”
Gagasan itu menekankan kaderisasi berbasis kompetensi, kemandirian ekonomi kader, penguatan wilayah dan cabang, tata kelola yang transparan, perlindungan anggota, serta pengembangan kajian dan pengabdian sosial.
Ia ingin PB SEMMI hadir lebih nyata dalam kehidupan kader. Bukan hanya saat kongres, pelantikan, atau agenda nasional. Organisasi, menurut Gibran, harus terasa melalui ruang belajar, mentoring, akses pengembangan kapasitas, dukungan usaha, perlindungan kader, dan pendampingan program di daerah.
“Daerah bukan hanya tempat pelaksanaan kegiatan. Daerah punya pengetahuan, pengalaman, dan potensi yang harus menjadi bagian dari arah organisasi. Tugas PB adalah membuka ruang dan memastikan semua itu terhubung,” ujarnya.
Sebagai Sekretaris Jenderal, Gibran akan berhadapan dengan sejumlah pekerjaan besar. Mulai dari konsolidasi struktur, pembaruan data organisasi, penataan administrasi, penyusunan kalender kerja, hingga memastikan program antarlembaga berjalan saling terhubung.
Ia juga ingin mendorong pola kerja yang lebih terukur. Setiap program harus memiliki tujuan yang jelas, jadwal, penanggung jawab, dan hasil yang dapat dievaluasi. Dengan cara itu, organisasi tak hanya terlihat sibuk, tetapi benar-benar bergerak dan menghasilkan dampak.
Terpilihnya Gibran sebagai Sekretaris Jenderal PB SEMMI juga menjadi pencapaian tersendiri bagi kader muda Sumatera Utara. Dari Medan, ia kini masuk ke jajaran pucuk pimpinan organisasi mahasiswa Islam tingkat nasional.
Namun, Gibran tak ingin pencapaian itu berhenti sebagai simbol atau kebanggaan personal.
“Menjadi anak muda dari Sumatera Utara yang dipercaya di tingkat nasional tentu sebuah kehormatan. Tapi kehormatan itu baru berarti kalau bisa diterjemahkan menjadi pelayanan, kesempatan, dan manfaat untuk kader di seluruh Indonesia,” katanya.
Kongres telah usai. Kontestasi juga selesai. Kini, menurut Gibran, waktunya seluruh energi dan gagasan yang muncul selama forum disatukan kembali menjadi kerja bersama.
“Amanah ini bukan milik saya sendiri. Ini tanggung jawab bersama. Saya ingin bekerja dengan terbuka dan sungguh-sungguh. Karena pada akhirnya, yang akan dinilai bukan seberapa besar kita berbicara, tetapi seberapa nyata organisasi hadir untuk kadernya,” tutup Gibran.



