Mendag Busan juga menjelaskan sejumlah upaya Kementerian Perdagangan untuk meningkatkan ekspor. Kemendag mengerahkan 46 perwakilan perdagangan RI di 33 negara untuk mengisi garis depan dalam strategi peningkatan ekspor produk-produk Indonesia.
Para perwakilan perdagangan ditugaskan untuk mempromosikan produk-produk Indonesia, mengidentifikasi peluang pasar di berbagai negara, dan memfasilitasi berbagai penjajakan bisnis (business matching) antara eksportir Indonesia dan calon pembeli potensial di luar negeri. “Jangan sungkan-sungkan menghubungi kami dan perwakilan kami di luar negeri,” ujar Mendag Busan.
Sementara itu, Vice President & Managing Director Cargill untuk Asia Tenggara, Australia, dan Selandia Baru, turut menjadi pembicara dalam konferensi tersebut. Ia menekankan sektor kakao Indonesia memiliki masa depan yang cerah. Namun, hal itu akan bergantung pada kolaborasi para pemangku kepentingan serta inovasi yang dilakukan.
Selain itu, konsumen semakin menunjukkan ketertarikan terhadap otentisitas, pengadaan lokal (local sourcing), pertanian berkelanjutan, serta tekstur dan rasa baru. Tren ini semakin memberi Indonesia peluang untuk memperkuat perannya menjadi hub pengolahan dan inovasi bagi Asia hingga dunia.
Salah satu peserta konferensi yang hadir hari ini, (23/7) adalah Direktur Eksekutif International Cocoa Organization (ICCO), Michel Arrion. Menurutnya, konferensi kakao menjadi momentum penting untuk melihat perkembangan Indonesia di sektor kakao, yang semula berperan sebagai produsen hingga saat ini menjadi pengolah kakao. “Indonesia memberikan banyak nilai tambah terhadap biji kakao untuk kepentingan industri cokelat. Kami yakin Indonesia akan semakin memperoleh banyak manfaat jika semakin meningkatkan produksi biji kakaonya,” ujar Michel.


