Karena itu, APTR Pasuruan meminta pemerintah tetap menjaga pasar gula nasional melalui kebijakan pembatasan impor yang lebih ketat.
Langkah tersebut dinilai penting agar harga gula produksi petani tetap kompetitif dan memberikan keuntungan yang layak.
“Untuk itu, kami berharap peran aktif negara dalam menjaga kestabilan harga pasar gula domestik melalui kebijakan pembatasan impor gula secara ketat. Ini bagian dari melindungi gula dalam negeri,” tegasnya.
Menurutnya, perlindungan terhadap petani menjadi faktor penting apabila pemerintah ingin mewujudkan target swasembada gula nasional.
Sebab, tanpa jaminan harga yang menguntungkan, minat petani untuk terus menanam tebu dikhawatirkan akan menurun.
Saat ini terdapat sekitar 150 hingga 200 petani yang mengelola lahan tebu di wilayah Pasuruan.
Untuk meningkatkan produksi nasional, para petani juga berharap pemerintah mendukung perluasan areal tanam tebu hingga mencapai target 3 juta hektare.
Sementara itu, Presiden Prabowo Subianto kembali menegaskan bahwa swasembada pangan, termasuk gula, menjadi salah satu prioritas pemerintah dalam membangun kemandirian bangsa.
Menurut Presiden, keberhasilan mencapai swasembada tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah pusat.
Dibutuhkan kolaborasi seluruh pihak, mulai dari kementerian, pemerintah daerah, TNI-Polri, dunia usaha, hingga petani sebagai pelaku utama di lapangan.
Panen raya tebu yang berlangsung serentak di berbagai daerah menjadi bagian dari upaya meningkatkan produksi gula nasional sekaligus memperkuat ketahanan pangan Indonesia.
Di Pasuruan, kegiatan tersebut juga dihadiri Komandan Lanud Muljono Kolonel Pnb Ahmad Mulyono, unsur TNI-Polri, pemerintah daerah, Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI), manajemen PG Kedawoeng, serta pelaku usaha.
Mereka secara simbolis melakukan pemotongan tebu sebagai tanda dimulainya musim panen.


