HOLOPIS.COM, JAKARTA – Penanganan darurat tanah longsor yang memutus total akses jalan penghubung Kecamatan Krayan Barat menuju Kecamatan Krayan Selatan, Kabupaten Nunukan, terus dilakukan.
Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari mengungkapkan, bencana itu menyebabkan ribuan warga terisolir.
“Sekitar 460 kepala keluarga atau 1.507 jiwa yang tersebar di 13 desa terisolasi,” kata Abdul Muhari dalam keterangannya yang dikutip Holopis.com, Minggu (19/7).
Ketiga belas desa tersebut meliputi Desa Long Pa’sia, Liang Lunuk, Long Budung, Pa’ Dalan, Pa’ Urang, Pa’tera, Pa’ Sing, Long Pupung, Pa’ Upan, Long Birar, Pa’ Kaber, Pa’ Amai, dan Pa’ Ibang.
“Selain akses transportasi yang terputus, pasokan listrik PLN di wilayah terdampak hanya dapat menyala selama empat jam setiap hari, yakni pukul 18.00 hingga 22.00 WITA,” bebernya.
Pemerintah Kabupaten Nunukan telah menetapkan status tanggap darurat sejak 15 hingga 28 Juli 2026.
Berdasarkan prakiraan cuaca Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) untuk beberapa hari ke depan, potensi hujan dengan intensitas ringan hingga sedang masih berpeluang terjadi di sebagian wilayah Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, dan Papua.
Sementara itu, wilayah Jawa, Bali, Nusa Tenggara, serta sebagian Kalimantan diperkirakan masih didominasi kondisi cuaca cerah hingga berawan yang berpotensi meningkatkan risiko kekeringan dan kebakaran hutan maupun lahan.
Menyikapi kondisi tersebut, Abdul mengimbau pemerintah daerah dan masyarakat untuk meningkatkan kesiapsiagaan sesuai dengan potensi ancaman di masing-masing wilayah.
“Masyarakat yang berada di daerah rawan karhutla diharapkan tidak melakukan pembukaan lahan dengan cara membakar serta segera melaporkan apabila menemukan titik api agar dapat dilakukan penanganan sedini mungkin,” imbaunya.
“Warga di wilayah rawan longsor tetap perlu mewaspadai hujan yang dapat terjadi secara tiba-tiba, terutama di kawasan perbukitan dengan lereng labil. Sementara itu, masyarakat di daerah yang mengalami kekeringan diimbau menghemat penggunaan air bersih, memanfaatkan sumber air yang tersedia secara bijak, serta berkoordinasi dengan pemerintah daerah apabila membutuhkan bantuan distribusi air bersih,” sambungnya.


