HOLOPIS.COM, JAKARTA – Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom), Muhammad Qodari, memaparkan sejumlah kebijakan Presiden Prabowo Subianto yang dinilai memberikan dampak nyata bagi sektor pertanian.
Mulai dari penurunan harga pupuk bersubsidi, penyederhanaan distribusi pupuk, bantuan alat dan mesin pertanian (alsintan), hingga kenaikan harga pembelian gabah disebut menjadi langkah pemerintah untuk meningkatkan kesejahteraan petani.
Menurut Qodari, komitmen Presiden Prabowo terhadap sektor pertanian kembali terlihat saat menghadiri puncak Pekan Nasional (PENAS) Petani Nelayan XVII di Kabupaten Gorontalo pada 24 Juni 2026.
“Pada 24 Juni 2026 lalu, Presiden Prabowo Subianto menghadiri acara puncak Pekan Nasional (PENAS) Petani Nelayan ke-17 di Kabupaten Gorontalo. Kehadiran Presiden dalam acara tersebut menjadi penegasan komitmen dan keberpihakan pemerintah kepada petani yang selama ini menjadi tulang punggung negara dalam mencapai kedaulatan pangan nasional,” ujar Qodari dalam keterangannya, Senin (29/6/2029).
Salah satu kebijakan yang disoroti adalah peningkatan kuota pupuk bersubsidi menjadi 9,5 juta ton atau dua kali lipat dibanding sebelumnya. Pemerintah juga memangkas jalur birokrasi agar pupuk bisa lebih cepat diterima petani.
Melalui Peraturan Presiden Nomor 6 Tahun 2025 tentang Tata Kelola Pupuk Bersubsidi, penyaluran pupuk kini dilakukan langsung dari PT Pupuk Indonesia kepada Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) maupun koperasi, sebelum diteruskan ke petani.
Proses penebusan pupuk juga dibuat lebih sederhana. Petani cukup membawa KTP, sementara sistem distribusi telah terintegrasi secara digital sehingga lebih transparan dan mudah dipantau.
Selain memperbaiki sistem distribusi, pemerintah juga menurunkan harga pupuk subsidi sekitar 20 persen sejak Oktober 2025. Harga pupuk urea yang sebelumnya Rp2.250 per kilogram kini menjadi Rp1.800 per kilogram, sedangkan pupuk NPK turun dari Rp2.300 menjadi Rp1.840 per kilogram.
Tak hanya untuk sektor pertanian, pemerintah juga kembali mengalokasikan pupuk subsidi bagi sektor perikanan sebanyak 295 ribu ton setelah sempat dihentikan selama empat tahun.
“Di era kepemimpinan Presiden Prabowo, bentuk keberpihakan pemerintah kepada petani telah ditunjukkan lewat berbagai kebijakan. Untuk menjamin pupuk subsidi selalu tersedia dalam jumlah cukup dan tepat waktu, pemerintah menambah kuantum pupuk subsidi hingga dua kali lipat menjadi 9,5 juta ton dan memangkas rantai birokrasi,” kata Qodari.
Alsintan Diperbanyak, Harga Gabah Naik
Qodari juga menyebut pemerintah terus mendorong modernisasi pertanian melalui penyaluran alat dan mesin pertanian (alsintan). Bantuan tersebut meliputi traktor roda dua dan roda empat, rice transplanter, combine harvester, hingga drone untuk penanaman benih dan penyemprotan hama.
Pada 2026, Kementerian Pertanian menyiapkan sekitar 38.969 unit alsintan dengan anggaran mencapai Rp4,19 triliun.
Selain bantuan langsung, pemerintah juga membuka akses pembiayaan melalui kredit alsintan berbunga ringan yang disalurkan bank-bank pemerintah maupun bank daerah.
Di sisi lain, pemerintah menaikkan Harga Pembelian Pemerintah (HPP) gabah oleh Bulog dari Rp6.000 menjadi Rp6.500 per kilogram tanpa rafaksi. Kebijakan ini diharapkan mampu menjaga harga gabah di tingkat petani tetap menguntungkan.
Qodari mengatakan berbagai kebijakan tersebut mulai menunjukkan hasil. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), produksi beras nasional sepanjang 2025 mencapai 34,69 juta ton. Angka tersebut juga sejalan dengan data Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO) yang mencatat produksi sebesar 35,6 juta ton serta data Departemen Pertanian Amerika Serikat (USDA) sebesar 34,6 juta ton.
Menurutnya, peningkatan produksi tersebut diikuti membaiknya kesejahteraan petani. Data BPS menunjukkan Nilai Tukar Petani (NTP) pada Mei 2026 mencapai 127,73, yang disebut sebagai capaian tertinggi dalam 34 tahun terakhir.
“Keberpihakan pemerintah terhadap sektor pertanian ini pun telah membuahkan hasil manis dengan menguatnya ketahanan pangan nasional. Seiring dengan hal itu, kehidupan petani juga semakin sejahtera. Menurut data BPS, Nilai Tukar Petani (NTP) pada Mei 2026 mencapai 127,73. Ini adalah angka tertinggi dalam 34 tahun terakhir, yang berarti ekonomi dan daya beli para petani kini semakin membaik,” tutur Qodari.

