Pada kesempatan yang sama, Wamendag Roro juga menyampaikan bahwa Kemendag memiliki program ‘Desa Bisa Ekspor’ untuk mendorong potensi ekspor dari daerah. Hingga saat ini, Kemendag bersama mitra strategis telah memetakan 2.616 desa, dengan 787 desa di antaranya telah dikategorikan sebagai desa siap ekspor. Program tersebut diharapkan dapat membuka peluang yang lebih luas bagi komunitas dan pelaku usaha di daerah, termasuk perempuan yang menjadi penggerak ekonomi lokal.
“Ketika perempuan diberikan kesempatan untuk berkembang dan memperoleh akses pasar yang lebih luas, maka manfaatnya tidak hanya dirasakan oleh individu, tetapi juga keluarga, komunitas, dan generasi berikutnya. Oleh karena itu, kolaborasi seluruh pihak menjadi sangat penting untuk memperkuat ekosistem pemberdayaan perempuan dan pengembangan produk lokal Indonesia,” pungkas Wamendag Roro.
Ditemui di lokasi kegiatan, Associate Director Penabulu Foundation Wawan Suyatmiko yang juga merupakan peserta forum mengapresiasi kehadiran Wamendag Roro dalam Forum Diskusi Ekonomi Restoratif ini. Menurutnya, pandangan yang disampaikan Wamendag Roro sejalan dengan upaya memperkuat peran perempuan sebagai penggerak ekonomi yang berkelanjutan.
Wawan juga menyambut baik upaya Kemendag dalam mempromosikan produk Indonesia di pasar internasional melalui berbagai pameran dan Paviliun Indonesia di luar negeri. Selain itu, ia berharap perempuan yang menjalankan berbagai usaha terus mendapatkan dukungan, baik melalui perluasan akses pasar maupun akses permodalan. Dukungan tersebut penting agar produk-produk lokal yang mereka hasilkan tidak hanya bertahan di pasar domestik, tetapi juga mampu bersaing di pasar global.



