HOLOPIS.COM, JAKARTA – Ketegangan di kawasan Teluk kembali meningkat setelah militer Amerika Serikat (AS) melancarkan serangan di dekat Selat Hormuz. Serangan mendadak AS itu dilakukan di tengah berlangsungnya negosiasi sensitif antara Washington dan Teheran untuk mengakhiri konflik AS-Israel di Iran.
Serangan tersebut terjadi saat delegasi Iran yang dipimpin pejabat tinggi sedang menuju Qatar guna membahas peluang kesepakatan damai. Situasi ini memunculkan kekhawatiran baru terhadap stabilitas kawasan dan ancaman gangguan distribusi energi global.
United States Central Command atau CENTCOM mengklaim operasi tersebut sebagai serangan pertahanan diri untuk melindungi pasukan AS dari ancaman militer Iran. Namun, pihak AS tidak mengungkap detail lengkap lokasi maupun skala operasi.
Media Iran melaporkan ledakan terjadi di Bandar Abbas, wilayah strategis di Iran selatan yang berjarak sekitar 70 kilometer dari Selat Hormuz, jalur vital yang dilalui hampir seperlima pasokan minyak dan gas dunia.
Juru bicara CENTCOM, Tim Hawkins, mengatakan target operasi mencakup lokasi peluncuran rudal dan kapal Iran yang diduga mencoba memasang ranjau di sekitar jalur pelayaran internasional.
“Targetnya termasuk lokasi peluncuran rudal dan kapal-kapal Iran yang mencoba memasang ranjau,” kata Hawkins kepada Al Jazeera dikutip pada Rabu, (27/5/2026).
Ia menambahkan bahwa militer AS tetap menjalankan operasi secara terbatas di tengah gencatan senjata yang masih berlangsung.
“Komando Pusat AS terus membela pasukan kami sambil menahan diri selama gencatan senjata yang sedang berlangsung,” jelas Hawkins.
Pernyataan tersebut diperkuat Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio yang sedang melakukan kunjungan ke India. Rubio menuding Iran berupaya mengancam jalur energi global melalui aktivitas militer di sekitar Selat Hormuz.
Berbicara kepada wartawan di Jaipur, India, Rubio menegaskan bahwa jalur strategis itu harus tetap dibuka. “Selat Hormuz harus dibuka dengan satu atau lain cara.”
Meski pembicaraan diplomatik masih berjalan, Rubio mengisyaratkan bahwa kesepakatan damai tidak akan tercapai dalam waktu dekat.
Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump mengaku negosiasi dengan Iran berjalan positif. Namun, tetap melontarkan ancaman jika perundingan gagal mencapai titik temu.
Dalam unggahan di Truth Social, Trump menulis opsi antara ada kesepakatan besar atau tidak ada kesepakatan sama sekali.
“Hanya akan ada Kesepakatan Besar untuk semua, atau tidak ada Kesepakatan sama sekali.”
Pernyataan itu muncul hanya beberapa hari setelah Trump menyebut nota kesepahaman dengan Iran sudah sebagian besar dinegosiasikan. Dengan demikain, sempat memunculkan optimisme akan berakhirnya perang yang mengguncang pasar global dan memicu lonjakan harga minyak.
Sementara itu, Iran belum mengeluarkan pernyataan resmi yang secara langsung mengonfirmasi serangan AS di Bandar Abbas. Namun, Islamic Revolutionary Guard Corps atau Garda Revolusi Iran mengklaim telah menembak jatuh drone militer AS.
IRGC menyebut drone jenis MQ-9 Reaper berhasil dihancurkan setelah memasuki wilayah udara Iran. Mereka juga mengklaim menargetkan drone RQ-4 serta jet tempur F-35 yang disebut melanggar wilayah Iran.
Dalam pernyataannya, IRGC menegaskan Iran memiliki hak penuh untuk membalas setiap pelanggaran gencatan senjata oleh AS.
Sumber-sumber Iran kepada Al Jazeera juga menyebutkan adanya serangan terhadap kapal di laut sebelum operasi terbaru AS berlangsung. Beberapa personel IRGC dilaporkan tewas dalam serangan di Bandar Abbas.
Meski tensi militer meningkat, Kementerian Luar Negeri Iran mengatakan pembicaraan dengan Washington masih menunjukkan perkembangan positif.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, menyebut sebagian besar isu utama sebenarnya telah dibahas kedua negara.
Baghaei menuturkan soal mencapai kesimpulan pada sebagian besar masalah yang sedang dibahas adalah benar.
“Namun, untuk mengatakan bahwa ini berarti kesepakatan akan segera ditandatangani bukanlah sesuatu yang dapat diklaim oleh siapa pun,” kata Baghaei.
Dalam konferensi pers di Teheran, Baghaei juga menegaskan bahwa pembahasan saat ini belum menyentuh program nuklir Iran dan masih difokuskan pada upaya mengakhiri perang.

