Negara yang Diam-diam Mulai Tinggalkan Dollar AS

2 Shares

HOLOPIS.COM, JAKARTA – Dominasi dolar Amerika Serikat (AS) sebagai mata uang utama dunia mulai menghadapi tantangan serius. Dalam beberapa tahun terakhir, sejumlah negara perlahan mulai mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS dalam perdagangan internasional, cadangan devisa, hingga transaksi energi.

Fenomena ini dikenal sebagai “de-dolarisasi”, sebuah langkah yang dilakukan banyak negara untuk mengurangi pengaruh ekonomi dan geopolitik Amerika Serikat di pasar global.

Meski belum mengguncang posisi dolar sepenuhnya, tren ini mulai terlihat nyata dan terus berkembang diam-diam di berbagai kawasan dunia.

China dan Rusia Jadi Motor Utama

China menjadi salah satu negara paling agresif mendorong penggunaan mata uang lokal dalam perdagangan internasional. Pemerintah Beijing aktif memperluas penggunaan yuan untuk transaksi lintas negara, terutama dengan negara-negara mitra dagang utama mereka.

Sementara Rusia mempercepat pengurangan penggunaan dolar setelah terkena sanksi ekonomi Barat akibat konflik geopolitik. Kini, sebagian besar perdagangan Rusia dengan China dilakukan menggunakan yuan dan rubel.

Bank sentral Rusia bahkan dilaporkan memangkas cadangan dolar AS secara besar-besaran dalam beberapa tahun terakhir.

- Advertisement -

BRICS Mulai Bergerak

Kelompok negara BRICS yang terdiri dari Brasil, Rusia, India, China, dan Afrika Selatan juga mulai membahas sistem pembayaran alternatif di luar dolar AS.

Beberapa negara BRICS bahkan telah melakukan transaksi perdagangan menggunakan mata uang lokal masing-masing, terutama untuk komoditas energi dan bahan baku.

Langkah ini dianggap sebagai sinyal bahwa negara berkembang mulai mencari sistem keuangan global yang tidak terlalu bergantung pada Amerika Serikat.

Negara Asia dan Timur Tengah Ikut Bergerak

Tidak hanya BRICS, sejumlah negara Asia dan Timur Tengah juga mulai mengambil langkah serupa.

India mulai memperluas perdagangan menggunakan rupee dengan beberapa negara mitra. Arab Saudi juga sempat membuka peluang transaksi minyak menggunakan mata uang selain dolar AS.

Sementara itu, bank sentral di berbagai negara mulai meningkatkan cadangan emas sebagai alternatif aset aman selain dolar.

Kenapa Banyak Negara Mulai Mengurangi Dollar AS?

Ada beberapa alasan utama di balik tren ini:

1. Menghindari Risiko Sanksi AS

Banyak negara khawatir sistem keuangan global terlalu dipengaruhi kebijakan Amerika Serikat. Ketika terkena sanksi, akses terhadap dolar bisa langsung terganggu.

2. Mengurangi Ketergantungan Ekonomi

Negara-negara berkembang ingin memperkuat mata uang lokal agar tidak terlalu rentan terhadap fluktuasi dolar AS.

3. Perubahan Kekuatan Ekonomi Dunia

Pertumbuhan ekonomi China dan negara berkembang membuat sistem ekonomi global mulai lebih multipolar, tidak lagi sepenuhnya berpusat pada AS.

Apakah Dollar AS Akan Tumbang?

Meski tren de-dolarisasi terus berkembang, banyak analis menilai posisi dolar AS masih sangat kuat untuk jangka panjang.

Dolar masih menjadi mata uang utama perdagangan global, cadangan devisa terbesar dunia, dan alat transaksi internasional paling dominan.
Selain itu, pasar keuangan AS masih dianggap paling stabil dan likuid dibanding negara lain.

Namun, yang mulai berubah adalah dunia kini perlahan mencari alternatif. Dan untuk pertama kalinya dalam beberapa dekade terakhir, dominasi dolar AS mulai menghadapi tantangan nyata dari banyak arah sekaligus.

Cloud Startup - Bikin Website Kamu Makin Ngebut
Ikuti kami di Google News lalu klik ikon bintang. Atau kamu juga bisa follow WhatsaApp Holopis.com Channel untuk dapat update 10 berita pilihan redaksi dan breaking news.
Ronalds Petrus Gerson
Ronalds Petrus Gerson
Tim Redaksi :
Apresiasi untuk Ronalds Petrus Gerson

Menyukai tulisan ini? Dukung penulis agar dapat terus menghadirkan karya dan artikel berkualitas.

Pembayaran via QRIS, GoPay, DANA, OVO, & ShopeePay.

SELURUH ISI KONTEN BUKAN TANGGUNG JAWAB REDAKSI HOLOPIS.COM

Berita Lainnya

DKI JAKARTA
☀️
00:00:00
Memuat Kalender...
MEMUAT... - ---- H
MEMUAT... 00:00
-- : -- : --

YANG BARU