MAKKAH – Senyum puas terpancar dari wajah para jemaah haji asal Embarkasi Jakarta-Banten Kloter 13 (JKB-13). Di tengah padatnya rangkaian ibadah haji 1447 H/2026 M, layanan konsumsi yang disediakan oleh pemerintah Indonesia sukses memanjakan lidah dan menjaga stamina mereka selama berada di Makkah.
Bukan tanpa alasan, hidangan yang disajikan dinilai tidak hanya bergizi, tetapi juga mempertahankan cita rasa autentik Nusantara yang ramah di perut.
Uswatun Hasanah, salah satu jemaah asal Kecamatan Mandalawangi, Kabupaten Pandeglang, mengaku sangat bersyukur dengan kualitas makanan yang diterimanya. Baginya, menu di Tanah Suci terasa sangat familier seperti masakan rumah sendiri.
“Menu yang saya terima ada nasi putih, ayam, ikan, hingga terong balado. Nasinya sama persis dengan yang kita makan waktu di rumah, pas rasanya dan masuk ke perut,” ungkap perempuan yang akrab disapa Bu Guru Puput ini saat ditemui di Hotel Al-Hidayah, Aziziyah, Makkah.
Puput menceritakan, layanan distribusi makanan berjalan sangat rapi. Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) mengantarkan makanan langsung ke kamar jemaah tiga kali sehari—pagi, siang, dan sore—dibantu oleh ketua rombongan agar pembagiannya berjalan kilat.
Selain porsi gizi seimbang yang dilengkapi karbohidrat, lauk pauk, dan buah segar, Puput juga melempar pujian untuk pasokan air minum yang tidak pernah surut.
“Seer cai mah, nambah dei nambah dei (banyak sekali kalau air minum, nambah lagi, nambah lagi),” selorohnya dalam bahasa Sunda.
Senada dengan Puput, Nenek Arisah, jemaah asal Kadubumbang, Pandeglang, juga mengaku sangat cocok dengan makanan yang disediakan. “Alhamdulillah, semua makanannya masuk ke perut,” tuturnya sembari tersenyum tipis.
Ditinjau Langsung, Menu Diperkuat Tempe dan Teri
Kualitas konsumsi jemaah ini rupanya bukan kebetulan. Manajemen logistik tersebut dipantau langsung oleh Direktur Jenderal Pengembangan Ekosistem Ekonomi Haji dan Umrah (PE2HU) Kementerian Haji dan Umrah, Jaenal Effendi, saat melakukan inspeksi mendadak di Sektor 10 Makkah.
Jaenal turun ke lapangan untuk mengecek kelayakan makanan sekaligus berdialog dengan petugas serta ketua kloter guna memastikan asupan nutrisi jemaah terpenuhi menjelang puncak haji yang menguras fisik.
“Ini menu malam hari dan sangat Indonesia sekali, karena ada tempe, teri, dan ikan. Pelaksanaan ibadah haji membutuhkan kondisi fisik yang prima, sehingga jemaah memerlukan asupan makanan yang baik agar tetap kuat,” jelas Jaenal saat meninjau menu makan malam jemaah.
Hadirkan Warung Nusantara untuk ‘Obat Kangen’
Menariknya, strategi pemerintah tahun ini tidak hanya mengandalkan katering wajib. Di Hotel Al-Hidayah, pihak PE2HU juga mengoptimalisasi area komersial hotel dengan menghadirkan ‘Warung Makan Nusantara’.
Fasilitas kuliner khas Indonesia ini sengaja disediakan sebagai alternatif bagi jemaah yang mendadak rindu dengan jajanan atau masakan spesifik dari tanah air. Langkah ini sekaligus menjadi strategi jitu untuk menggerakkan roda ekonomi pelaku usaha lokal dan diaspora Indonesia di Arab Saudi.
“Ini bisa menjadi obat kangen jemaah terhadap masakan Indonesia. Mudah-mudahan juga memberi manfaat ekonomi dan multiplier effect bagi masyarakat Indonesia, termasuk diaspora yang ada di Arab Saudi,” pungkas Jaenal.

