JAKARTA, HOLOPIS.COM – Gen Z mulai memaknai Idul Adha lewat kurban mandiri. Banyak anak muda rela menabung dari gaji sendiri demi kurban pertama.
Perayaan Idul Adha kini makin dekat dengan gaya hidup anak muda.
Generasi Z atau Gen Z mulai memaknai kurban bukan sekadar ritual tahunan, tetapi juga bentuk ketaatan, kepedulian sosial, hingga pembuktian diri bisa mandiri secara finansial.
Tren ini terlihat dari meningkatnya minat anak muda untuk berkurban menggunakan uang hasil kerja sendiri.
Bahkan, banyak yang rela menabung berbulan-bulan demi bisa membeli hewan kurban pertama mereka.
Salah satunya dirasakan Alya Putri (24), pegawai swasta di Jakarta.
Ia mengaku mulai menyisihkan sebagian gajinya sejak awal tahun agar bisa ikut patungan sapi bersama teman-temannya saat Idul Adha tahun ini.
“Awalnya cuma nabung sedikit tiap gajian. Lama-lama kekumpul juga. Rasanya bangga banget akhirnya bisa kurban pakai uang hasil kerja sendiri,” kata Alya, Rabu (13/5/2026).
Menurut Alya, selama ini ia hanya melihat orang tuanya berkurban setiap tahun.
Karena itu, momen kurban pertama terasa lebih emosional baginya.
“Dulu mikir kurban itu buat orang yang sudah mapan. Ternyata anak muda juga bisa kalau mau disiplin nabung,” ujarnya.
Cerita serupa datang dari Rizky Ramadhan (23), freelancer desain grafis asal Bandung.
Ia memilih mengikuti kurban digital karena dianggap lebih praktis dan cocok dengan gaya hidup anak muda.
“Karena kerja freelance waktunya enggak tentu, jadi saya pilih kurban online. Tinggal transfer, dapat laporan juga. Praktis banget,” katanya.
Rizky mengaku mulai menyisihkan uang dari setiap proyek yang diterimanya sejak beberapa bulan lalu agar bisa ikut kurban tahun ini.
“Bukan soal hewannya mahal atau enggak, tapi ada rasa puas karena bisa berbagi dari hasil kerja sendiri,” tambahnya.
Fenomena Gen Z yang mulai mandiri berkurban ternyata sejalan dengan hasil riset Badan Amil Zakat Nasional atau Baznas.
Dalam kajiannya, Baznas mencatat ada peningkatan signifikan partisipasi anak muda dalam ibadah kurban, termasuk melalui platform digital.
Sekitar 30 hingga 50 persen generasi muda mulai tertarik berkurban secara mandiri menggunakan penghasilan pribadi.
Baznas menilai Gen Z memiliki pola baru dalam memaknai Idul Adha.
Selain sebagai ibadah, kurban juga dianggap sebagai bagian dari aktualisasi diri dan bentuk kontribusi sosial yang nyata.
Tren kurban digital juga disebut menjadi salah satu faktor pendorong meningkatnya minat anak muda.
Berbagai layanan online membuat proses kurban menjadi lebih praktis, transparan, dan mudah dijangkau.
Mulai dari memilih hewan, pembayaran, hingga laporan distribusi daging kini bisa dilakukan lewat aplikasi atau platform digital.
Bagi Gen Z yang akrab dengan teknologi, model seperti ini dinilai lebih sesuai dengan kebiasaan mereka sehari-hari.
Tak hanya itu, banyak anak muda kini memandang kurban sebagai simbol perjuangan dan latihan mengendalikan diri.
Mereka rela mengurangi nongkrong, menekan belanja impulsif, hingga mengambil pekerjaan tambahan demi bisa ikut kurban saat Idul Adha.
Fenomena tersebut ramai dibagikan di media sosial.
Banyak Gen Z membagikan cerita perjuangan mereka menabung demi membeli kambing atau ikut patungan sapi bersama teman-teman.
Bagi sebagian anak muda, keberhasilan berkurban untuk pertama kali menjadi pencapaian personal yang membanggakan.
Selain nilai ibadah, ada rasa bahagia karena mampu berbagi kepada sesama dari hasil usaha sendiri.
“Kalau buat saya, kurban itu bukan cuma soal nyembelih hewan. Tapi juga belajar ikhlas dan belajar berbagi,” kata Alya.
Di tengah gaya hidup serba digital dan cepat, semangat berkurban di kalangan Gen Z justru menunjukkan sisi lain generasi muda Indonesia.
Mereka tidak hanya aktif di media sosial, tetapi juga mulai membangun kesadaran spiritual dan sosial lewat langkah sederhana yakni rela menabung demi kurban pertama.


