HOLOPIS.COM, JAKARTA – Gencatan senjata sementara antara Rusia dan Ukraina resmi berakhir pada hari ini. Meski sempat diharapkan bisa meredakan konflik, kedua pihak justru saling menuduh telah melanggar kesepakatan penghentian serangan selama tiga hari tersebut.
“Gencatan senjata ini akan mencakup penghentian seluruh aktivitas kinetik, dan juga pertukaran 1.000 tahanan dari masing-masing negara,” kata Presiden Amerika Serikat Donald Trump, dikutip Holopis.com, Senin (11/5).
Kesepakatan gencatan senjata itu diumumkan menjelang peringatan Victory Day di Rusia akhir pekan lalu, yaitu perayaan kemenangan Uni Soviet atas Nazi Jerman dalam Perang Dunia II.
Walau aktivitas militer disebut sempat menurun selama masa gencatan senjata berlangsung, pertempuran ternyata tidak benar-benar berhenti sepenuhnya di lapangan.
Di tengah situasi tersebut, Presiden Rusia Vladimir Putin sempat memberi sinyal bahwa perang yang kini sudah memasuki tahun kelima kemungkinan bisa segera berakhir.
Namun harapan itu tampaknya masih jauh dari kenyataan. Ukraina pada Senin melaporkan serangan Rusia tetap terjadi di sejumlah wilayah sipil, termasuk kawasan Kharkiv di timur laut dan Kherson di selatan negara tersebut.
Menurut otoritas Kyiv, serangan drone, bom, dan artileri Rusia menewaskan sedikitnya dua orang dan melukai tujuh lainnya, termasuk seorang anak laki-laki berusia 14 tahun.
Meski begitu, Amerika Serikat dan sejumlah negara Eropa disebut masih terus mencari cara untuk membawa Rusia dan Ukraina kembali ke meja perundingan yang lebih serius.
Konflik Rusia-Ukraina sendiri hingga kini masih menjadi salah satu perang terbesar di Eropa dalam beberapa dekade terakhir. Ribuan korban jiwa telah berjatuhan sejak invasi Rusia dimulai, sementara upaya diplomasi berkali-kali mengalami jalan buntu.

