HOLOPIS.COM, JAKARTA – Pernyataan Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya mengenai inflasi pengamat mendapatkan kritik keras dari berbagai pihak.
Sosiolog Okky Madasari kemudian malah menuding yang terjadi di Kabinet Merah Putih saat ini justru sebaliknya.
“Yang sesunguhnya terjadi bukan inflasi pengamat, tapi yang sesungguhnya terjadi inflasi pejabat inkompeten. Pejabat pejabat yang tidak kompeten, kita itu inflasi. Kabinet yang begitu gemuk itu kan inflasi pejabat,” kata Okky Madasari dalam pernyataannya di podcast Abraham Samad seperti dikutip Holopis.com, Jumat (24/4).
Dengan pernyataan yang dianggap berlebihan, Okky yang juga seorang Sastrawan tersebut mempertanyakan kepakaran Teddy dalam menjabat Sekretaris Kabinet. Tak hanya Teddy, Okky juga turut menyentil kepakaran seorang Sugiono di kursi Menteri Luar Negeri.
“Dan itu sudah jelas, kita punya menteri luar negeri itu kepakarannya apa. Pak Teddy sendiri, dia seorang tentara, mayor waktu itu, tidak mau mundur dari jabatan tentaranya, menduduki jabatan sipil, setkab. Lalu kemudian dinaikan pangkatnya jadi Letkol. Lalu dalam urusan menjalankan tugas setkab dia ngambil S3 sambil kuliah, lalu dia ngambil Seskoad,” beber Okky.
“Nah kalo kaya gini kan bisa kita pertanyakan kompetensinya bagaimana,” imbuhnya.
Tak hanya Teddy dan juga Sugiono, Okky juga menuding banyak para pembantu Presiden Prabowo yang tidak mmeiliki integritas.
“Itu terjadi juga di jabatan lain. Dan kondisinya defisit pejabat berintegritas,” imbuhnya.
Diketahui sebelumnya Sekretaris Kabinet (Seskab) Teddy Indra Wijaya pada Jumat (10/4), menyoroti fenomena yang disebut sebagai ‘inflasi pengamat’.
Kondisi yakni meningkatnya jumlah pihak yang menyampaikan opini di ruang publik tanpa didukung latar belakang keahlian maupun data yang akurat.
“Sekarang ini ada satu fenomena, apa itu? Ada yang namanya inflasi pengamat. Jadi banyak sekali pengamat. Ada pengamat keras, tapi dia background-nya bukan di situ,” kata Teddy.
Teddy menambahkan bahwa sebagian opini yang berkembang di masyarakat tidak sepenuhnya berbasis fakta dan berpotensi menyesatkan publik. Meski demikian, Seskab menekankan bahwa tingkat kepercayaan publik terhadap pemerintah tetap tinggi.
“Ada pengamat militer, ada pengamat luar negeri. Dan pengamat-pengamat itu datanya tidak sesuai fakta. Datanya keliru,” ucapnya.
“Tapi faktanya apa? Faktanya lebih dari 96 juta warga lebih percaya Pak Prabowo, tidak percaya mereka. Itu adalah bukti nyata kepercayaan publik. Bukan suatu asumsi,” lanjutnya.

