HOLOPIS.COM, JAKARTA — Target pembangunan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) sebesar 100 gigawatt (GW) yang dicanangkan pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dinilai bukan sekadar langkah ambisius, tetapi juga momentum penting untuk mengakselerasi transformasi energi nasional.
Namun di balik optimisme tersebut, tersimpan tantangan besar yang menguji kesiapan industri, teknologi, hingga infrastruktur kelistrikan Indonesia.
Ketua Pusat Usaha & Pelaksana Kegiatan Masyarakat Ketenagalistrikan Indonesia (MKI), Bakti S Luddin, menegaskan bahwa target tersebut harus dipandang sebagai dorongan strategis yang memacu seluruh pemangku kepentingan untuk bergerak lebih cepat dan terukur.
“Ini satu motivasi, satu challenge baru. Memang kelihatannya bombastis, tapi harus kita turunkan jadi langkah-langkah konkret agar bisa terjadi,” ujarnya dalam konferensi pers di Jakarta, dikutip Holopis.com, Minggu (19/4/2026).
Menurut Bakti, persoalan utama dalam pengembangan PLTS tidak hanya terletak pada besarnya kapasitas yang ingin dicapai, melainkan pada karakter energi surya itu sendiri yang bersifat intermiten atau tidak stabil sepanjang hari. Di Indonesia, produksi listrik dari tenaga matahari umumnya hanya optimal selama empat hingga lima jam.
Kondisi ini menuntut adanya solusi teknologi yang mampu menjaga kontinuitas pasokan listrik. Salah satu pendekatan yang kini menjadi kunci adalah integrasi dengan Battery Energy Storage System (BESS), yang memungkinkan energi disimpan saat produksi melimpah dan digunakan kembali saat dibutuhkan.
“Sekarang matahari sudah digabung dengan BESS. Energi siang disimpan, lalu dipakai malam. Tapi pertanyaannya, berapa lama penyimpanannya? Empat jam, atau lebih? Itu menentukan kapasitas yang harus dibangun,” jelasnya.
Lebih lanjut, ia menekankan bahwa integrasi antara PLTS dan BESS menjadi tantangan kompleks karena berkaitan langsung dengan besaran investasi, kesiapan teknologi, serta perencanaan sistem kelistrikan yang matang dan terintegrasi.
Tak hanya aspek teknologi, tantangan juga muncul dari sisi infrastruktur dan tata ruang. Di wilayah padat seperti Pulau Jawa, pengembangan PLTS skala besar berbasis lahan dinilai kurang efisien akibat tingginya harga tanah. Oleh karena itu, pemanfaatan PLTS atap atau rooftop solar dinilai menjadi solusi yang lebih realistis dan ekonomis.
Sebaliknya, di luar Jawa, peluang pembangunan PLTS berbasis lahan masih terbuka lebar. Meski demikian, kesiapan jaringan distribusi dan transmisi listrik tetap menjadi faktor krusial yang harus diperhatikan agar energi yang dihasilkan dapat tersalurkan secara optimal.
“Kalau di Jawa, tanah mahal, lebih baik rooftop. Di luar Jawa masih bisa ground, ada 10 mega, 20 mega, dan seterusnya,” pungkasnya.

