JAKARTA, HOLOPIS.COM – Wakil Ketua Umum Partai Gerindra, Habiburokhman mempertanyakan apakah kritik Saiful Mujani yang mewacanakan penggulingan Prabowo Subianto sebagai Presiden adalah benar-benar bertujuan memperbaiki situasi, atau malah justru bagian dari agenda politik partisan.
Hal ini disampaikan Habiburokhman karena selama ini Siaful Mujani dianggap sebagai sosok yang memang cukup konsisten berseberangan dengan Prabowo Subianto. Bahkan dalam konteks politik, ia memang cukup dikenal sebagai entitas partisan kelompok politik tertentu.
“Kritik yang berisi ajakan untuk menjatuhkan Presiden Prabowo oleh Saiful Mujani dan beberapa tokoh lain juga perlu kita kritisi. Kita tahu bahwa Saiful Mujani adalah elit politik kaya raya yang selama ini berseberangan dengan Presiden Prabowo, termasuk pada Pilpres lalu. Apakah kritik Saiful Mujani murni disebarkan untuk perbaikan, atau hal tersebut hanya operasi politik partisan,” kata Habiburokhman, Selasa (14/4/2026).
Politisi yang juga Ketua Komisi III DPR RI tersebut juga menyinggung fenomena “inflasi pengamat” yang sebelumnya disampaikan Teddy Indra Wijaya, di mana sebagian kritik dinilai konstruktif, namun ada pula yang dianggap mengandung propaganda, kebohongan, hingga potensi upaya merebut kekuasaan, baik secara konstitusional maupun inkonstitusional.
Di sisi lain, Saiful Mujani menegaskan bahwa pernyataannya soal kemungkinan menurunkan Presiden merupakan bagian dari kebebasan berpendapat yang dijamin konstitusi.
Ia menjelaskan bahwa pernyataan tersebut disampaikan dalam forum akademik dan dipicu oleh kekhawatiran terhadap pernyataan Presiden Prabowo yang ingin “menertibkan” para pengamat, yang menurutnya memiliki nuansa represif seperti era Orde Baru.
Saiful juga menilai mekanisme formal seperti pemakzulan sulit dilakukan dalam kondisi saat ini, sekaligus mengingatkan pentingnya menjaga ruang kebebasan berekspresi di tengah dinamika politik nasional.


