HOLOPIS.COM, JAKARTA – Ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran kini memasuki babak baru. Setelah enam minggu konflik militer bersama sekutu Israel, Washington resmi menerapkan blokade laut terhadap kapal-kapal yang terhubung dengan pelabuhan Iran.
Manuver AS itu menjadikan langkah menggeser konflik ke arah tekanan ekonomi skala besar. Blokade itu menargetkan jalur vital perdagangan energi di kawasan Teluk. Selain itu, menguji ketahanan ekonomi Teheran yang sangat bergantung pada ekspor minyak.
United States Central Command (CENTCOM) tak mengumumkan secara resmi dimulainya operasi ini. Namun, pihak militer AS memastikan bahwa blokade mulai berlaku pada Senin pukul 17.30 waktu Iran.
Kebijakan ini berlaku bagi kapal-kapal yang memasuki atau meninggalkan pelabuhan maupun wilayah pesisir Iran. Sementara, kapal yang menggunakan pelabuhan non-Iran tak akan menjadi sasaran.
Presiden AS, Donald Trump, mengklaim bahwa 34 kapal sudah melintasi Selat Hormuz pada Minggu, waktu setempat. Namun, klaim tersebut tidak disertai bukti pendukung.
Dalam pernyataannya di Gedung Putih, Trump juga menyinggung adanya upaya komunikasi dari pihak lain.
“Kami telah dihubungi oleh pihak lain. Yang sangat ingin bantu membuat kesepakatan,” kata Trump dikutip pada Selasa, (14/4/2026).
Sepanjang konflik yang dimulai sejak 28 Februari, Trump berulang kali menyatakan bahwa Teheran berupaya menjalin kesepakatan. Meski klaim itu belum pernah terverifikasi.
Blokade ini diiringi dengan retorika keras dari kedua pihak. Iran memperingatkan bahwa warga sipil AS akan merasakan dampaknya. Hal itu terutama melalui kenaikan harga bahan bakar.
Di sisi lain, Trump mengeluarkan peringatan tegas terhadap militer Iran. “Setiap kapal serang Iran yang mendekati armada AS di wilayah tersebut akan segera dieliminasi,” tutur Trump.
Penegakan blokade diperkirakan akan dilakukan di wilayah timur Selat Hormuz, tepatnya di Teluk Oman.
Area yang relatif berada di luar jangkauan rudal dan drone Iran. Namun, mekanisme teknis penghentian kapal tanker masih belum jelas. Serangan langsung dinilai berisiko memicu bencana lingkungan. Dengan demikian, muncul kemungkinan bahwa pasukan AS akan melakukan inspeksi paksa atau pengambilalihan kapal yang melanggar.
United Kingdom Maritime Trade Operations telah mengeluarkan peringatan kepada seluruh pelaut untuk meningkatkan kewaspadaan.
Mereka meminta kapal-kapal yang melintas di kawasan tersebut untuk “mempertahankan kewaspadaan situasional yang tinggi” sambil menunggu panduan navigasi terbaru.
Blokade ini merupakan bagian dari strategi Washington untuk menekan ekonomi Iran. Targetnya jelas memutus aliran ekspor minyak dan memaksa Teheran memenuhi tuntutan AS. Hal itu termasuk membuka jalur pelayaran dan menghentikan pengayaan uranium.
Menurut analis Miad Maleki, kebijakan ini berpotensi menyebabkan kerugian besar bagi Iran.
Ia memperkirakan kerugian mencapai 276 juta dolar AS per hari dari ekspor yang hilang dan 159 juta dolar AS dari gangguan impor. Sekitar 13 miliar dolar AS per bulan secara total.
Iran tidak tinggal diam. Pemerintahnya menegaskan tetap menguasai Selat Hormuz dan dapat menentukan kapal mana yang boleh melintas.
Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, bahkan menyindir langsung warga AS melalui media sosial.

