HOLOPIS.COM, JAKARTA – Figur Maarten Paes kini jadi salah satu peman diaspora paling menarik dalam sepak bola Indonesia. Berstatus sebagai kiper utama di level klub sekelas Ajax Amsterdam, perjalanan karier Paes mencerminkan perpaduan pengalaman internasional dan identitas baru sebagai bagian dari Timnas Indonesia.
Paes lahir di Nijmegen, Belanda, pada 14 Mei 1998. Ia tumbuh dan berkembang dalam sistem sepak bola Belanda yang terkenal ketat dan teknis.
Namun, ia memiliki garis keturunan Indonesia dari neneknya yang lahir di Kediri, Jawa Timur. Jalan itu yang kemudian membuka peluang baginya untuk membela Indonesia di level internasional.
Pada 30 April 2024, Paes resmi menjadi warga negara Indonesia melalui proses naturalisasi. Kiper setinggi 191 cm itu sebelum akhirnya mendapatkan persetujuan FIFA untuk berganti asosiasi sepak bola dari Belanda ke Indonesia.
Dari MLS Balik ke Eredivisie
Karier profesional Paes dimulai di akademi NEC Nijmegen sebelum menembus level senior. Ia kemudian bergabung dengan FC Utrecht dan menjalani debut di Eredivisie pada 2018.
Perjalanan kariernya semakin matang saat hijrah ke liga professional Amerika Serikat (AS) bersama FC Dallas pada 2022. Di sana, ia tampil impresif dengan lebih dari 100 penampilan dan mencatat puluhan clean sheet. Paes juga pernah meraih penghargaan MLS All-Star dan Save of the Year 2024.
Namun, karena cedera, Paes sempat tak jadi pilihan utama di FC Dallas. Namun, karirnya berlanjut saat Ajax tertarik dan merekrutnya pada Februari 2026 dengan kontrak jangka panjang hingga 2029.
Kepindahan ke Ajax menjadi titik penting dalam kariernya, mengingat klub ini merupakan salah satu raksasa sepak bola Belanda dan Eropa. Rekam jejak Belanda dikenal memiliki sejarah panjang dalam pengembangan pemain top dunia.
Di Ajax, Paes mengenakan nomor punggung 26 dan bersaing dengan sejumlah kiper. Meski awalnya tak jadi pilihan utama, ia mulai mendapatkan kesempatan bermain di Eredivisie musim 2025/2026.
Dalam beberapa penampilannya, Paes menunjukkan kualitas refleks, distribusi bola, dan ketenangan di bawah tekanan—karakteristik yang menjadi ciri khas kiper modern.
Debutnya bersama Ajax juga cukup impresif, termasuk mencatat sejumlah penyelamatan penting dalam laga-laga awalnya.
Sebelum membela Indonesia, Paes sempat memperkuat tim muda Belanda dari U-19 hingga U-21. Namun, ia kemudian memilih membela Indonesia, langkah yang disambut antusias oleh publik Tanah Air.
Debutnya bersama Timnas Indonesia terjadi pada September 2024 dalam Kualifikasi Piala Dunia 2026 melawan Arab Saudi. Meski sempat melakukan pelanggaran yang berujung penalti, Paes justru menjadi pahlawan dengan menggagalkan eksekusi tersebut.
Penampilan heroik itu membuatnya langsung mendapatkan pengakuan sebagai salah satu kiper andalan Indonesia.
Sebagai kiper, Paes dikenal memiliki gaya bermain modern. Ia bisa melakukan distribusi bola akurat untuk membangun serangan dari belakang. Meskipun beberapa pundit Belada mengkritisi gaya permainan Paes yang minus dalam membangun serangan dari belakang atau buid-up.
Refleks cepat dalam situasi satu lawan satu Keberanian keluar dari sarang untuk memotong serangan lawan
Namun, gaya bermain progresif ini juga kerap menjadi sorotan karena dinilai berisiko oleh sebagian pengamat—terutama dalam pertandingan dengan tekanan tinggi.
Kehadiran Paes menjadi bagian dari transformasi besar Timnas Indonesia yang kini diperkuat banyak pemain diaspora dengan pengalaman Eropa dan Amerika.
Dengan usia yang masih berada di puncak performa untuk seorang kiper yakni 27 tahun, Paes diproyeksikan menjadi tulang punggung Timnas Indonesia dalam jangka panjang. Salah satu agenda krusial Timnas Indonesia yakni Piala Asia 2027.


