HOLOPIS.COM, JAKARTA – Upaya mengatasi persoalan sampah di wilayah perkotaan kini mulai bergerak ke arah solusi berbasis teknologi. Pemerintah Kota Jakarta Barat mengambil langkah awal dengan menjajaki penerapan teknologi pirolisis berbasis waste to product bersama PT Kimia Alam Subur (KAS).
Langkah ini menjadi sinyal bahwa penanganan sampah tidak lagi sekadar mengangkut dan membuang. Namun, mulai diarahkan pada pengolahan yang menghasilkan nilai ekonomi.
Wali Kota Jakarta Barat, Iin Mutmainnah, menjelaskan kerja sama ini masih dalam tahap awal berupa audiensi dan pertukaran gagasan.
“Hari ini, kami baru saja audensi dan bertukar pikiran terkait rencana penyelesaian masalah sampah secara kolaboratif. Tadi ada penawaran menarik dari PT Kimia Alam Subur (KAS) yang akan ditinjaklanjuti,” kata Iin dikutip dari laman resmi Pemkot Jakbar, Jumat, (10/4/2026).
Ia menilai teknologi yang ditawarkan memiliki potensi besar dalam mengurangi beban sampah di wilayahnya.
Teknologi pirolisis yang ditawarkan KAS bekerja dengan cara memanaskan sampah tanpa oksigen sehingga tak terjadi pembakaran langsung. Proses ini mampu mengubah sampah—terutama plastic menjadi produk seperti minyak dan gas.
Direktur PT Kimia Alam Subur, Hermawan Wibisono, menjelaskan mekanisme teknologi tersebut.
“Suhunya bisa mencapai 400-700 derajat celcius, jadi tidak melakukan pembakaran secara langsung. Jadi melalui perambatan panas. Untuk sampah organik, prosesnya bisa 1,5 jam untuk 30 ton sampah,” ujar Hermawan.
Menurutnya, metode ini lebih ramah lingkungan karena meminimalkan emisi dari pembakaran terbuka sekaligus menghasilkan produk bernilai ekonomi.
Berdasarkan paparan yang diterima Pemkot Jakbar, teknologi ini mampu mereduksi sampah secara signifikan, menyisakan residu sekitar 10 persen.
Hal ini menjadi daya tarik utama bagi pemerintah daerah yang selama ini menghadapi keterbatasan lahan dan kapasitas pengelolaan sampah.
Melihat potensi tersebut, Iin menyambut positif tawaran kerja sama.
Meski menjanjikan, Pemkot Jakbar menegaskan tidak akan terburu-buru dalam implementasi. Tahap berikutnya adalah menentukan lokasi yang tepat serta melakukan kajian menyeluruh.
“Langkah selanjutnya adalah menentukan lokasi yang akan disurvei terlebih dahulu. Karena, ini memerlukan kajian mendalam,” ujarnya.
Kajian tersebut tidak hanya mencakup aspek teknis, tetapi juga dampak lingkungan dan sosial di sekitar lokasi.
“Kami akan melakukan kajian secara ilmiah dan menyusun strategi komunikasi kepada masyarakat agar tidak terjadi kesalahpahaman. Kita harus berhati-hari dan mengikuti tahapan yang ada agar tidak muncul persoalan baru di kemudian hari,” jelasnya.

