HOLOPIS.COM, JAKARTA – Keputusan pemerintah menahan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) di tengah memanasnya konflik geopolitik mendapat respons positif dari kalangan pengusaha. Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) menilai kebijakan ini menjadi “rem darurat” untuk menjaga daya beli masyarakat yang masih rentan di tengah tekanan ekonomi.
Ketua Bidang Ketenagakerjaan Apindo, Bob Azam, menegaskan bahwa stabilitas harga BBM memiliki dampak langsung terhadap konsumsi masyarakat yang menjadi tulang punggung ekonomi nasional.
“Kami terus terang menghargailah upaya pemerintah untuk tidak menaikkan BBM. Karena dampaknya cukup luas kepada daya beli masyarakat. Pengalaman Indonesia kan waktu naik BBM sangat memukul daya beli masyarakat,” kata Bob, dikutip Holopis.com, Sabtu (4/4/2026).
Menurutnya, kenaikan harga BBM tidak hanya berdampak pada konsumen, tetapi juga memicu efek domino di sektor industri, terutama melalui peningkatan biaya produksi dan distribusi. Dalam situasi seperti ini, Apindo meminta pelaku usaha untuk menahan diri agar tidak terburu-buru menaikkan harga barang.
“Jadi jangan sampai daya beli terpukul, kami menaikkan harga. Nah kemudian di supply chain begitu juga. Walaupun kelangkaan ini akan memacu kenaikan harga, tapi sedapat mungkin kita di sektor industri untuk menahan diri. Sama-sama menjagalah supaya baik produsen maupun konsumen bisa tetap terjaga kelangsungannya,” imbuhnya.
Namun di balik apresiasi tersebut, Apindo juga mengingatkan adanya risiko besar yang mengintai, terutama dari sisi fiskal negara. Bob mengakui, kemampuan pemerintah untuk terus menahan harga BBM tidak bisa berlangsung lama, apalagi di tengah lonjakan harga minyak dunia akibat eskalasi konflik antara AS-Israel dan Iran.
“Jadi memang kami mendukung apa yang sudah dilakukan pemerintah untuk tetap menjaga harga BBM. Tapi juga kita sadar fiskal kita juga terbatas. Yang penting kita harus bersiap dengan menggunakan BBM secara bijak,” ujar Bob.
Tekanan terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) memang semakin nyata. Harga minyak mentah dunia kembali melonjak signifikan, dengan minyak brent ditutup di level USD109,28 per barel pada perdagangan Kamis (2/4/2026), naik 8,03 persen. Angka ini jauh melampaui asumsi APBN 2026 yang hanya berada di kisaran USD70 per barel.
Kondisi tersebut berpotensi memperlebar defisit anggaran hingga melampaui batas aman 3 persen, seiring meningkatnya beban subsidi energi yang harus ditanggung pemerintah.
Dengan situasi global yang masih penuh ketidakpastian, kebijakan menahan harga BBM kini berada di persimpangan: antara menjaga daya beli masyarakat atau menahan tekanan terhadap keuangan negara.
Bagi pelaku usaha, keseimbangan keduanya menjadi kunci agar roda ekonomi tetap berputar tanpa mengorbankan stabilitas jangka panjang.


