HOLOPIS.COM, JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengawali perdagangan dengan kinerja positif. Pada pembukaan Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG tercatat naik 31,32 poin atau 0,44 persen ke level 7.122,99.
Penguatan juga terjadi pada indeks saham unggulan LQ45 yang naik 3,16 poin atau 0,44 persen ke posisi 720,65. Kenaikan ini memberi sinyal awal potensi rebound setelah IHSG sempat melemah pada sesi sebelumnya.
Meski demikian, pergerakan indeks masih dibayangi ketidakpastian. Pada penutupan terakhir, IHSG terkoreksi tipis 0,08 persen ke level 7.091,67, mencerminkan kondisi pasar yang masih berada dalam fase konsolidasi.
Analis Binaartha Sekuritas, Ivan Rosanova, menilai IHSG berpotensi melanjutkan penguatan dengan menguji level resisten Fibonacci di 7.129.
“Potensi kenaikan hingga 7.268 jika berhasil menembus di atasnya (7.129),” ujar Ivan dikutip dalam riset hariannya, dikutip Holopis.com, Selasa (31/3/2026).
Namun, ia mengingatkan bahwa level 7.436 masih menjadi batas krusial. Selama IHSG belum mampu menembus area tersebut, tren penurunan sebelumnya dinilai belum sepenuhnya berakhir.
Dari sisi teknikal, IHSG memiliki area support di level 6.900, 6.744, dan 6.587. Sementara resistance berada di kisaran 7.179, 7.436, 7.765, hingga 8.098.
Di tengah volatilitas pasar, sejumlah saham tetap dinilai menarik untuk dicermati. Dari sektor perbankan, BBNI direkomendasikan buy on weakness pada area 3.510–3.610 dengan target harga 3.970.
Sementara itu, saham energi BUMI disarankan hold dengan target harga 232.
Dari sektor konsumsi, CPIN juga masuk radar dengan rekomendasi buy on weakness di kisaran 3.700–3.800 dan target harga 4.220. Sedangkan JPFA direkomendasikan hold dengan target 2.590.
Adapun saham energi lainnya, PGAS, dinilai menarik untuk strategi buy on weakness di area 1.800–1.820 dengan target harga 2.050.
Dengan peluang rebound yang mulai terbuka namun belum solid, investor dihadapkan pada situasi yang menuntut kehati-hatian. Momentum kenaikan memang terlihat, tetapi disiplin membaca level teknikal tetap menjadi kunci agar tidak terjebak dalam euforia pasar yang masih rapuh.


